Kisah Leo Rolly Carnando, dari Klaten hingga Juara Dunia Junior

Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso Minggu, 27 September 2026 18:27 WIB
Kisah Leo Rolly Carnando, dari Klaten hingga Juara Dunia Junior

Samudra, kakak Leo Rolly Carnando./Solopos-Taufiq Sidik Prakoso

Harianjogja.com, KLATEN— Leo Rolly Carnando kini dikenal sebagai salah satu pebulu tangkis Indonesia yang mampu menapaki panggung dunia. Namun, perjalanan menuju level tersebut bermula dari sebuah rumah sederhana di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.

Rumah yang berada di tepi Jl. Kyai Penjalin, wilayah pinggiran Klaten yang berbatasan dengan Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, itu menjadi saksi masa kecil Leo.

Di rumah tersebut kini tinggal dua orang, yakni Trio Efendi, ayah Leo, dan Samudra, kakaknya. Setahun terakhir, keluarga Leo juga membuka toko olahraga kecil bernama Leo Sport di rumah tersebut.

Berbagai perlengkapan olahraga, terutama bulu tangkis, dijual di toko tersebut. Sejumlah jersey bertandatangan pemain top Indonesia juga menghiasi dinding toko.

Nama-nama seperti Bagus Maulana, Daniel Marthin, Markus Fernaldi Gideon, Muhammad Riyan Ardhianto, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Rian Angung Saputro hingga Jonatan Christie terpampang di sana.

Toko tersebut dikelola Samudra. Kakak Leo itu juga fasih menjelaskan berbagai peralatan olahraga kepada pembeli yang berkonsultasi.

Maklum, Samudra sejatinya juga seorang pebulu tangkis. Dia pernah merantau selama beberapa tahun untuk bergabung dengan klub bulu tangkis di Kalimantan.

Rumah, koleksi jersey, hingga toko olahraga tersebut kini menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan Leo. Dari anak kampung di pinggiran Klaten, Leo berhasil menapaki panggung bulu tangkis dunia.

Leo Mulai Kenal Bulu Tangkis Sejak Balita

Masa kecil Leo dihabiskan bersama ayah, ibu, dan Samudra. Tidak ada darah atlet dari kedua orang tuanya.

Ayah Leo, Trio Efendi yang akrab disapa Pak Bey, merupakan seorang wiraswasta yang menjalankan usaha perlengkapan pesta pernikahan.

Ketertarikan Leo terhadap bulu tangkis sudah tumbuh sejak berusia sekitar 1,5 tahun. Semuanya bermula dari kebiasaan Leo menemani Samudra berlatih bulu tangkis di salah satu klub di Kota Solo.

“Sebenarnya saya dulu inginnya ke sepakbola. Tetapi, enggak dibolehin sama almarhumah ibu karena risikonya gede, ya cidera. Kemudian dianjurkan ke bulu tangkis,” kata Samudra saat ditemui Espos di rumahnya, Sabtu (26/9/2026).

Samudra masih mengingat bagaimana awal mula adiknya tertarik bermain bulu tangkis. Ketika itu, ukuran raket bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan tubuh Leo.

Namun, semangat Leo untuk bermain sangat besar. Melihat kondisi tersebut, Pak Bey kemudian memotong raket agar ukurannya sesuai dengan tubuh Leo yang masih balita.

Kecintaan Leo terhadap bulu tangkis bahkan terbawa hingga waktu tidur. Raket kesayangannya selalu dibawa.

“Iya, setiap hari itu pasti tidur bawa raket,” jelas Samudra.

Ketika masuk kelas 1 SD, Pak Bey memasukkan Leo ke klub bulu tangkis PB Golden Star Solo. Leo kemudian sempat pindah berlatih di Karanganyar sebelum bergabung dengan PB PMS.

Leo juga mengikuti latihan bulu tangkis secara privat. Tidak berhenti di klub, Pak Bey turut melatih sendiri kedua putranya.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Samudra dan Leo menjalani latihan bersama ayahnya. Pak Bey yang tidak bisa bermain bulu tangkis belajar secara autodidak mengenai teknik olahraga tersebut.

Setiap putranya berlatih, Pak Bey memilih duduk di pinggir lapangan. Dia lebih banyak mengamati gerakan Samudra dan Leo daripada berbincang dengan orang tua lainnya.

Hasil pengamatan tersebut kemudian diterapkan Pak Bey ketika melatih kedua putranya di rumah.

Motor Bebek Jadi Saksi Perjuangan

Perjalanan menuju tempat latihan di Kota Solo juga menjadi bagian dari perjuangan keluarga Leo. Saat itu, Samudra dan Leo menggunakan sepeda motor bebek untuk pulang-pergi latihan.

Motor tersebut bukan kendaraan dengan kondisi sempurna. Bagian speedometer berlubang dan justru dimanfaatkan untuk meletakkan aneka jajanan yang disantap saat beristirahat setelah latihan di klub.

Sesekali motor tersebut digunakan untuk berboncengan berempat bersama almarhumah ibu mereka. Ketika hujan turun, Samudra dan Leo berlindung menggunakan mantol.

Pernah suatu ketika mantol masuk ke gir motor saat kendaraan melaju. Samudra bahkan nyaris terjatuh.

“Ada-ada saja kejadian waktu itu,” kata Samudra.

Latihan rutin membuat kemampuan Leo dan Samudra semakin terasah. Samudra kemudian bergabung dengan klub bulu tangkis di Kalimantan dan mendapatkan beasiswa.

Sementara itu, perjalanan Leo berlanjut hingga bergabung dengan PB Djarum pada 2015 setelah berulang kali gagal mengikuti audisi.

Sejak kecil, orang tua Leo dan Samudra juga menerapkan kedisiplinan serta tanggung jawab. Keduanya diminta menentukan pilihan dan menjalankannya dengan serius.

Jika ingin serius berlatih, keduanya harus benar-benar serius. Begitu juga dengan pendidikan, sekolah tetap menjadi nomor satu jika itu yang dipilih.

Terinspirasi Gaya Taufik Hidayat

Pak Bey membenarkan bahwa dirinya dahulu melatih kedua putranya setiap hari sebelum mereka berangkat sekolah.

Selepas Subuh, Samudra dan Leo menjalani latihan teknik bulu tangkis hingga fisik. Salah satu latihannya adalah berlari dari rumah hingga Tegalgondo.

Pak Bey bersyukur guru-guru Leo ketika bersekolah di SD yang berlokasi di Desa Duwet memberikan kelonggaran. Para guru memahami keinginan Leo untuk serius menjadi atlet.

Bakat Leo juga sudah terlihat sejak usia belia. Bahkan ketika masih balita, dia sudah memegang raket layaknya pemain profesional.

Leo kecil juga kerap bergaya seperti legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat, ketika mengusap keringat.

“Saya juga tidak ngerti dari mana dia bisa tahu kalau gayanya seperti itu,” ungkap Pak Bey.

Meski bakatnya terlihat, perjalanan Leo menjadi atlet tidak selalu berjalan mulus. Dia berulang kali gagal dalam audisi masuk PB Djarum maupun PB Jaya Raya.

Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Setelah melalui empat kali kegagalan, Leo akhirnya diterima dalam audisi kelima dan bergabung dengan PB Djarum Jakarta serta tinggal di asrama.

“Total empat audisi gagal, kemudian audisi yang kelima diterima,” kata Pak Bey.

Leo dan Daniel Marthin Raih Banyak Gelar

Perjuangan panjang Leo kemudian membuahkan berbagai prestasi di nomor ganda putra maupun ganda campuran.

Berdasarkan catatan Espos, Leo meraih juara dunia junior 2018 di nomor ganda campuran berpasangan dengan Indah Cahya Sari Jamil.

Setahun kemudian, Leo menjadi juara dunia junior 2019 pada nomor ganda putra berpasangan dengan Daniel Marthin. Dia juga meraih emas beregu pada Kejuaraan Dunia Junior 2019.

Prestasi lainnya adalah medali emas SEA Games 2021 di Vietnam pada nomor ganda putra bersama Daniel Marthin.

Pada Asian Games 2026 di Jepang, Leo menjadi bagian dari skuad beregu putra Indonesia yang meraih medali emas. Leo/Daniel tampil pada nomor ganda putra dan turut memberikan andil penting dalam laga final.

Setelah membantu Indonesia meraih emas pada nomor beregu, Leo/Daniel masih berjuang di nomor ganda putra Asian Games 2026.

Pak Bey berharap perjalanan putranya di ajang tersebut kembali menghasilkan prestasi.

“Harapan saya, Leo bisa mempertahankan gelarnya, untuk yang perorangan [nomor ganda putra] bisa membawa medali lagi untuk keluarga, untuk bangsa Indonesia,” kata Pak Bey.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online