Antoine Griezmann/Reuters-Dylan Martinez
Harianjogja.com, JOGJA—Cibiran dan cemoohan sempat mewarnai penampilan Prancis dan Argentina pada fase grup Piala Dunia 2018. Dua tim juara dunia ini siap menebus cacat mereka di fase grup dengan barmain apik di babak 16 besar.
Mereka akan saling sikut di Kazan Arena, Kazan, Sabtu (30/6) pukul 21.00 WIB. Menjelang putaran final Piala Dunia di Rusia bergulir, publik menaruh ekspektasi besar kepada penampilan Prancis dan Argentina karena dua tim ini sama-sama pernah menjuarai Piala Dunia. Selain itu, Prancis dan Argentina mengusung nama-nama besar dalam daftar skuat mereka.
Tetapi yang terjadi, penampilan Prancis dan Argentina jauh dari harapan. Tidak sedikit pendukung mereka yang kecewa ketika Prancis ditahan Denmark tanpa gol pada laga penutup Grup C. Begitu juga dengan Argentina yang sempat ditahan Islandia dengan skor 1-1 dan dipermalukan Kroasia dengan skor 0-3 hingga terpaksa memastikan lolos ke babak 16 besar pada laga terakhir Grup D dengan menaklukkan Nigeria lewat skor 2-1.
Produktivitas gol dua tim yang dipenuhi bomber kelas dunia ini bahkan sangat memprihatinkan. Masing-masing baru mencetak tiga gol dalam tiga laga. Prancis lebih parah karena satu dari tiga gol berasal dari penalti.
Namun bukan kali ini saja Prancis dan Argentina telat panas dalam mengawali Piala Dunia. Les Bleus misalnya hanya memperoleh sekali kemenangan dan dua kali imbang, plus cuma mencetak tiga gol pada fase grup Piala Dunia 2006. Namun, tim yang juga berjuluk Ayam Jantan itu akhirnya berkokok dengan menyingkirkan Spanyol, Brasil, dan Portugal, di fase knock out, sebelum mereka takluk adu penalti dari Italia di babak final.
Setali tiga uang, Argentina pernah diragukan ketika kalah dengan skor 0-1 dari Italia pada putaran pertama Piala Dunia 1978. Kemudian, La Albiceleste menuntaskan turnamen dengan meraih gelar juara.
Mengutip kata-kata bijak tokoh politik Prancis, Napoleon Bonaparte, bahwa selalu ada kesempatan untuk membuat sebuah awal baru, Prancis dan Argentina berusaha memperbaiki kesalahan agar tak terlempar dari Piala Dunia 2018.
Bintang Prancis, Antoine Griezmann, yang baru mencetak sebiji gol dalam tiga laga di fase grup berambisi untuk moncer.
“Di Euro 2016, saya kesulitan selama fase grup dan saya bisa bicara banyak di fase knock out,” kata penyerang Atletico Madrid tersebut, seperti dilansir Reuters, Jumat (29/6).
Griezmann bakal menjadi tumpuan pelatih Didier Deschamps bersama Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele di lini depan Les Bleus. Selain mereka, Olivier Giroud dan Nabil Fekir, juga layak diperhitungkan apabila Prancis gagal memecah kebuntuan.
Meski serangan Prancis sejauh ini tidak berbahaya, Argentina tetap harus menambal pertahanan mereka yang compang-camping. Lima gol telah bersarang di gawang La Albiceleste. Bek kawakan seperti Javier Mascherano harus memimpin pertahanan Argentina agar tidak kedodoran menghadapi penyerang-penyerang Prancis yang memiliki kecepatan lari di atas rata-rata seperti Mbappe dan Dembele.
Sebaliknya, pertahanan Prancis pantas mendapat pujian. Gawang Les Bleus tidak kebobolan gol open play di Piala Dunia sejak 1998. Catatan itu menjadi modal Prancis menghentikan bintang Argentina, Lionel Messi, yang akhirnya pecah telur di Rusia kali ini setelah gol cantiknya ke gawang Nigeria.
“Dia [Messi] berbeda ketika bersama Argentina dibandingkan ketika bersama Barcelona. Dia tidak punya rekan yang sama di sekelilingnya, cara bermain mereka beda, tetapi dia berhasil menyelamatkan Argentina dalam beberapa kesempatan,” ujar bek sentral Prancis yang juga rekan seklub Messi di Barcelona, Samuel Umtiti, seperti dikutip nytimes.com.
Sayang, Messi memiliki track record yang buruk di fase knock out Piala Dunia. Penyerang berjuluk La Pulga tersebut mandul gol selama 666 menit dalam fase gugur di turnamen paling akbar di dunia ini. Messi seolah mendapat momentum karena dia menjadi pemain Argentina terbaru yang berhasil menjebol gawang Prancis, yakni saat laga persahabatan Februari 2009. Prancis sendiri tidak pernah mampu mengalahkan Argentina dalam pertemuan mereka di laga kompetitif. Termasuk kekalahan mereka dari tim asal Amerika Latin itu pada Piala Dunia 1930 dan Piala Dunia 1978.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos