Advertisement
Gary Neville Anggap Prancis Layak Juara karena Tak Terjebak Nafsu Penguasaan Bola
Prancis - Reuters/Christian Hartmann
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Prancis keluar sebagai juara Piala Dunia 2018. Prancis dianggap layak mendapatkan trofi tersebut mengingat performa menawan yang sudah diperlihatkan mereka sepanjang turnamen. Pernyataan itu datang dari legenda sepak bola Inggris, Gary Neville, sekaligus menjabarkan analisisnya.
Prancis meraih gelar juara Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2 pada babak final di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7/2018) malam WIB. Empat gol Prancis tercatat atas gol bunuh diri Mario Mandzukic, gol Antoine Griezmann, Paul Pogba, dan Kylian Mbappe. Sementara dua gol balasan Kroasia dicetak oleh Ivan Perisic dan Mandzukic.
Advertisement
Di laga final itu, Prancis memang tak banyak menguasai bola. Namun mereka bermain efektif dengan serangan baliknya. Bahkan serangan-seranagn balik dari Prancis itu kerap membuat lini pertahanan Kroasia terpontang-panting. Neville pun menilai Prancis tahu cara yang tepat untuk mengalahkan Kroasia yang memang kerap tampil tangguh.
Prancis memang nyaris tanpa kesalahan kecuali gol kedua Kroasia akibat blunder Hugo Lloris. Selebihnya, mereka tampil solid. Sementara Kroasia justru membuat dua kesalahan yakni gol bunuh diri Mandzukic serat handball Perisic yang membuat mereka dihukum penalti.
Performa itu lah yang membuat Neville menganggap Prancis layak menjadi juara. "Mereka bukan cuma pemain bagus, mereka tidak hanya sekadar pemain berteknik, namun mereka juga kuat, teguh, dan mereka bisa melalui pertandingan-pertandingan sulit. Mereka tak mesti bermain bagus untuk menang," ucap Neville seperti dilansir Sky Sports, Senin (16/7/2018).
"Kita sudah terbiasa berpikir dalam 10 tahun terakhir ini bahwa penguasaan bola adalah faktor dominan dalam sebuah laga karena yang dilakukan Spanyol dan Jerman dengan pengaruh Pep Guardiola. Tapi di Piala Dunia ini, itu sedikit bergeser," sambungnya.
"Kroasia selalu bakal menguasai bola lebih banyak, mereka selalu akan menekan Prancis, tapi Prancis menyerang balik mereka, memukul, dan menjatuhkan mereka. Itu adalah taktik untuk memenangi pertandingan."
"Jangan biarkan penguasaan bola menipu Anda agar berpikir bahwa Prancis tak mengontrol pertandingan tersebut. Prancis mengontrol laga itu sementara mereka tak menguasai bola," tutup Neville.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement





