Struktur Gerbang Tol Trihanggo Mulai Terlihat, Ramp Jogja-Solo Dikebut
Pembangunan akses keluar-masuk (ramp on/off) dan Gerbang Tol Trihanggo di area Simpang Kronggahan, Sleman terus bergulir. Proyek konstruksi yang menjadi bagian
Suasana Mini Museum 50 Tahun PSS pada Minggu (17/5/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman resmi dibuka di sisi selatan Stadion Maguwoharjo sebagai bagian perayaan usia emas Super Elja. Pameran yang berlangsung pada 17–24 Mei 2026 itu menghadirkan perjalanan panjang PSS Sleman lewat sembilan zona sejarah, mulai dari koleksi jersei legendaris, trofi bersejarah, hingga pengalaman masuk langsung ke ruang ganti pemain. Berikut laporan Reporter Harian Jogja, Catur Dwi Janati.
Nuansa hijau khas PSS Sleman langsung terasa begitu memasuki area selatan Stadion Maguwoharjo. Sebuah gapura besar bertuliskan “Viva La Historia” berdiri mencolok dan menjadi pintu masuk menuju lorong nostalgia perjalanan setengah abad klub berjuluk Super Elja tersebut.
Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman dihadirkan manajemen sebagai ruang untuk merawat sejarah sekaligus mendekatkan perjalanan klub kepada para pendukung lintas generasi. Selama sepekan penuh, pengunjung diajak menelusuri jejak perjuangan klub berlambang candi dari masa ke masa hingga kembali bersaing di kasta tertinggi sepak bola nasional.
"Mini museum ini adalah rangkaian dari perayaan 50 tahun PSS Sleman. Yang mana ini kita adakan itu nanti dari tanggal 17 Mei sampai dengan puncaknya di tanggal 24 Mei," terang Project Leader Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman, Alif Madani pada Minggu (17/5/2026).
Begitu melewati gerbang “Viva La Historia”, pengunjung langsung disambut deretan koleksi jersei PSS Sleman dari berbagai era. Area Memorabilia Jersey menampilkan “baju tempur” Super Elja sejak era Liga Bank Mandiri musim 2001/2002 hingga koleksi terbaru yang membawa suasana nostalgia bagi para pendukung.
Jersei kandang, tandang, hingga seragam kiper dipamerkan lengkap. Sejumlah jersei spesial yang pernah dikenakan langsung oleh pemain PSS Sleman juga dipajang, membuat suasana museum terasa lebih emosional bagi para penggemar.
Seluruh koleksi tersebut dikumpulkan dari kolektor dan pendukung PSS di Bumi Sembada. Nilai historisnya terasa semakin kuat karena seluruh jersei pernah dipakai langsung oleh para pemain Super Elja dalam pertandingan resmi.
Empat nama yang memiliki kontribusi besar bagi perjalanan klub juga mendapatkan ruang penghormatan tersendiri. Jersei milik Muhammad Eksan, Marcelo Braga, Anang Hadi, dan Gustavo Tocantins dipamerkan lengkap dengan kisah kiprah mereka membesarkan nama PSS Sleman.
Area koleksi jersei hanyalah satu dari sembilan section yang ada di Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman.
"Kebetulan di mini museum itu ada 9 section. Tadi yang sama-sama kita udah jalan bareng-bareng dari depan sampai nanti di ujung sana, section pertama itu nanti ada area memorabilia jersey, ada banyak koleksi jersey. Dari mulai PSS era Ligina sampai era sekarang," terang Alif.
Usai menikmati koleksi jersei, pengunjung akan diarahkan menuju Trophy Room. Di ruangan ini, berbagai trofi bersejarah yang pernah diraih Super Elja dipamerkan kembali untuk membangkitkan memori kejayaan klub.
Deretan piala itu menjadi saksi perjalanan panjang PSS Sleman dalam meraih prestasi dari masa ke masa. Bagi pendukung yang mengikuti perjalanan klub sejak lama, area ini menjadi salah satu sudut paling emosional di museum.
"Di section yang kedua ada trophy room, ada koleksi piala-piala PSS, mulai dari piala promosi pertama tahun '99 ke divisi utama sampai dengan piala Liga 2 tahun 2018. Kalau yang terakhir kemarin kan kita juga runner-up, di situasinya kurang lebih sebenarnya sama, promosi tapi posisinya runner-up. Kalau yang '99 masih ada trofinya, kalau yang kemarin tidak ada trofinya, tapi tetap promosi," jelasnya.
Setelah melewati Trophy Room, pengunjung akan menjumpai History Wall. Pada section ini, perjalanan sejarah PSS Sleman sejak 1976 hingga 2026 ditampilkan dalam bentangan cerita panjang di dinding museum.
"Jadi ada semacam kayak deskripsi cerita dari tahun 1976 sampai dengan tahun 2026 sekarang. Jadi dari tahun pertama sampai tahun ke-50, itu PSS sudah melalui apa saja itu kita ceritakan juga," terang Alif.
Pengunjung kemudian diajak masuk ke area Locker Room Experience. Di ruangan ini, atmosfer ruang ganti pemain PSS Sleman dihadirkan kembali seperti suasana Final Pegadaian Championship 2025/2026.
Jersei pemain disusun seperti kondisi asli menjelang pertandingan final. Papan taktik milik Pelatih Kepala PSS Sleman, Ansyari Lubis, juga ditempatkan di salah satu sudut ruangan.
Nuansa ruang ganti terasa semakin hidup karena rekaman audio suasana pemain dan pelatih saat final turut diputar sebagai latar suara.
"Kota hadirkan locker room experience, supaya penonton umum atau fans atau penggemar PSS itu bisa merasakan suasana ruang ganti," ungkapnya.
"Karena selain kita tampilkan jersey-jersey pemain DSP di final dan pemain PSS yang tercatat musim ini, juga diputar sebagai ambiance atau dalam tanda kutip background sound suasana ruang ganti di pertandingan final. Jadi harapannya pengunjung yang datang itu nanti bisa merasakan langsung situasi ruang ganti ketika final," tandas Alif.
Dari ruang ganti, pengunjung diajak menuju Area Stadium Experience. Pada zona ini, pengunjung dapat menginjak rumput di tepi lapangan Stadion Maguwoharjo dan berfoto di antara bangku pemain.
"Setelah dari ruangan locker room bisa ke sini, ada tunnel yang memang ini Area Stadium Experience. Memang tidak semua, kalau wartawan mungkin sampai area sini umum. Cuman kalau masyarakat umum atau pengunjung, PSS fans, supporter, dan lain sebagainya tentu jarang yang sampai sini," tuturnya.
"Selain kita jelaskan juga ada tiga pilar ini, homebase-homebase yang pernah dipakai PSS, dari mulai Tridadi, terus dulu sempat ke Mandala juga sebentar, sampai dengan sekarang di Maguwo dari tahun 2007," imbuh Alif.
Area Stadium Experience sengaja dirancang agar pengunjung dapat berswafoto dengan latar tulisan Maguwoharjo. Menurut Alif, Mini Museum PSS Sleman diharapkan tidak hanya dinikmati pendukung lama, tetapi juga keluarga yang ingin mengenalkan sejarah klub kepada anak-anak mereka.
"Jadi dari kalangan keluarga yang mungkin bapaknya ibunya atau dulu sudah senang PSS, itu bisa menurunkan ke anak-anaknya dengan mengajak ke Mini Museum museum PSS dan berswafoto di Area Stadium Experience," ujarnya.
Pengalaman pengunjung belum berhenti di sana. Pada section Memorabilia, berbagai barang bersejarah milik PSS Sleman dipamerkan, mulai dari sepatu Gustavo Tocantins yang dipakai saat final, syal, tiket pertandingan, buku, arsip koran, hingga berbagai koleksi lain yang berkaitan dengan Super Elja.
Pengunjung juga dapat menyaksikan Live Podcast setiap siang dan malam hari dengan menghadirkan narasumber yang pernah menjadi bagian perjalanan PSS Sleman.
Sementara pada section Memorabilia Supporter, area Slemania dan BCS ditampilkan lengkap dengan foto lawas, atribut, dan ornamen khas masing-masing kelompok pendukung.
"Masuk ke sesi yang terakhir, ada PSS Area. Di PSS Area itu langsung turunan dari manajemen, ada pameran ataupun partisi yang bercerita tentang PSS development atau pendidikan usia dini dari PSS. Kemudian ada PSS store," tukasnya.
Seluruh pengalaman di Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman dapat dinikmati dengan tiket masuk Rp30.000. Sementara anak dengan tinggi badan di bawah 120 sentimeter dikenai tarif Rp15.000.
Salah seorang pengunjung, Dharma Bagaskara, mengaku kunjungannya ke Mini Museum menjadi pengalaman terbaik yang pernah ia rasakan sebagai pendukung PSS Sleman. Saat ditemui, Bagas tengah mengantre untuk berfoto dengan latar tulisan Stadion Maguwoharjo di tribun timur.
Pemuda berusia 18 tahun itu mengaku terkesan dengan koleksi jersei yang dipamerkan karena menjadi bagian perjalanan PSS dari masa ke masa.
"Pengalamannya sih, pengalaman terbaik lah. Dimanjakan dengan semua stan-stan, semua jersi-jersi," ungkapnya.
Bagas mengatakan dirinya telah mendukung PSS sejak usia tujuh tahun dan merasa senang dapat menyusuri sejarah klub melalui Mini Museum tersebut.
"Perasaan saya sangat senang karena saya sudah mendukung klub ini, ya, dari lama. Saya dari usia 7 tahun [mendukung PSS], sekarang usia mau 18 tahun," ujarnya.
Menurut Bagas, section Locker Room Experience menjadi bagian paling berkesan karena atmosfer ruang ganti terasa sangat nyata melalui audio asli suasana pemain dan pelatih.
"Yang paling berkesan, yang pertama tuh dari locker room. Karena di situ kerasa banget atmosfernya. Kerasa banget kalau misal pelatihnya ngomong-ngomong," tuturnya.
Selain ruang ganti, Bagas juga mengaku terkesan bisa berdiri langsung di tepi lapangan Stadion Maguwoharjo yang selama ini hanya ia lihat dari tribun penonton.
"Di field juga, sangat mengesankan," tuturnya.
Meski puas dengan pengalaman yang ditawarkan, Bagas memberi masukan agar pencahayaan di area museum dibuat lebih terang agar koleksi dapat terlihat lebih jelas.
Kesan serupa juga diungkapkan pengunjung lainnya bernama Yoko. Ia mengaku sejak awal sudah memperkirakan Mini Museum PSS Sleman akan dikemas secara menarik dan berkesan.
"Sangat ini, expect aja, sangat bagus," ujarnya.
Bagi Yoko, area trofi menjadi zona paling emosional. Melihat langsung piala-piala yang pernah diraih PSS Sleman membuat memori kejayaan klub kembali teringat.
"Melihat piala [paling berkesan]. Merinding, pasti merinding," tuturnya.
"Tadi sempat foto," tambahnya.
Datang bersama istri dan anaknya, Yoko menyebut kunjungan ke Mini Museum menjadi pengalaman keluarga yang berkesan.
"Menjadi pengalaman buat pribadi sama keluarga juga. Baru pertama kali," ungkapnya.
"Iya [penggemar Sleman juga], from father to son," lanjutnya.
Direktur PSS Sleman, Yoni Arseto, mengatakan Mini Museum ini memang dihadirkan sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah PSS Sleman.
"Ini memang kita berikan ruang untuk masyarakat itu tahu, terutama masyarakat yang pecinta PSS," tuturnya.
Menurut Yoni, Mini Museum 50 Tahun PSS Sleman menjadi wujud impian para pendukung agar perjalanan klub dari masa ke masa dapat terus dikenang dan dinikmati masyarakat.
"Mini museum ini adalah benar-benar wujud dari sebuah impian kita, impian masyarakat Sleman. Karena dari perjalanannya PSS dari nol sampai saat ini, makanya kita memberikan istilahnya, sejarah dan bisa dinikmati oleh masyarakat," ungkapnya.
"Biar pada, istilahnya, [penggemar] berkunjung ke sini untuk menikmati proses perjalanannya PSS untuk sampai saat ini," lanjut Yoni.
Yoni menambahkan pengunjung juga dapat melihat langsung berbagai fasilitas stadion, ruang ganti pemain, hingga koleksi jersei berlogo candi yang menjadi identitas PSS Sleman.
Ke depan, manajemen PSS Sleman berencana menghadirkan museum permanen agar sejarah klub tetap terjaga dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian wisata olahraga di Sleman.
"Harapan manajemen ya nanti ke depannya kita akan membikin [museum]. Kalau nanti kita sudah punya tempat tersendiri, ya walaupun sudah ada tempat tersendiri, kita akan benar-benar membikin mini museum ini untuk jadi wisata sport di Sleman. Iya, rencananya memang ada rencana untuk permanen," ujarnya.
"Agar tidak terputus dan memang kan sejarah itu kan memang akan dikenang selamanya. Jadi untuk saat berdiri maupun sampai besok yang akan datang, jadi semuanya itu bisa akan tahu gimana proses perjalanannya PSS Sleman ini berjalan," tukas Yoni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan akses keluar-masuk (ramp on/off) dan Gerbang Tol Trihanggo di area Simpang Kronggahan, Sleman terus bergulir. Proyek konstruksi yang menjadi bagian
Persib Bandung juara Super League 2025/2026 usai unggul head to head atas Borneo FC. Simak klasemen akhir dan tim terdegradasi.
Penggunaan hand sanitizer berlebihan bisa picu eksim, kulit kering, dan iritasi. Simak penjelasan dokter kulit.
Bulog Jogja pastikan stok Minyakita aman jelang Idul Adha. Distribusi capai 2,6 juta liter, ditambah pasokan baru.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul hadir dengan track ekstrem. Seeding run panas, final diprediksi makin sengit!
Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, menghadiri resepsi pernikahan Ignatius Windu Hastomo (Igo)