Warga Diminta Peka Kenali Gejala Awal Penyalahgunaan Narkoba
Workshop P4GN di Kelurahan Gowongan mengajak warga mengenali gejala awal penyalahgunaan narkoba agar penanganan dan pemulihan bisa dilakukan lebih cepat.
Kiper PSIM Jogja, Cahya Supriadi saat berlatih di Stadion Mandala Krida, Jogja, beberapa waktu lalu. Ist/ PSIM Jogja
Harianjogja.com, JOGJA — PSIM Jogja memastikan stabilitas di sektor penjaga gawang dengan mempertahankan kiper muda andalannya, Cahya Supriadi, untuk menghadapi Super League 2026/2027. Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa Laskar Mataram tak hanya berburu pemain baru, tetapi juga menjaga fondasi tim yang sudah terbukti.
Performa Cahya sepanjang musim 2025/2026 menjadi alasan utama di balik perpanjangan kontrak tersebut. Kiper berusia 23 tahun itu tampil dominan dengan mencatatkan 32 penampilan dari total 34 laga. Tak hanya itu, ia juga membukukan 107 penyelamatan penting yang kerap menyelamatkan PSIM dari kebobolan.
Menariknya, kontribusi Cahya tak berhenti di bawah mistar. Ia bahkan mencatatkan satu assist—sebuah catatan langka bagi seorang penjaga gawang—serta ratusan distribusi bola akurat yang membantu membangun serangan dari lini belakang.
General Manager PSIM Jogja, Steven Sunny, menilai performa Cahya memang layak diapresiasi meski sempat mengalami fluktuasi. Namun secara keseluruhan, ia melihat sang pemain menunjukkan kualitas yang menjanjikan.
“Secara umum performanya bagus. Untuk ukuran kiper muda, apa yang ditunjukkan Cahya musim ini cukup memuaskan,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Tak hanya di level klub, perkembangan Cahya juga terlihat di level internasional. Ia sempat mendapat panggilan ke Timnas Indonesia senior, yang menjadi indikator kuat bahwa potensinya terus berkembang. PSIM melihat hal ini sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan.
Manajemen menegaskan, strategi klub saat ini adalah mengombinasikan pemain siap pakai dengan talenta potensial. Cahya dianggap sebagai contoh ideal dari visi tersebut—mampu tampil konsisten sekaligus masih memiliki ruang berkembang.
Sementara itu, Cahya mengaku keputusan bertahan di Jogja tak lepas dari faktor kenyamanan. Ia merasa atmosfer sepak bola dan kehidupan di kota ini sangat mendukung performanya di lapangan.
“Jogja sudah seperti rumah kedua bagi saya. Saya nyaman dengan tim, suasana, dan dukungan yang ada,” ungkapnya.
Selain itu, dukungan keluarga yang terus mendampingi juga menjadi faktor penting dalam keputusannya menandatangani kontrak baru berdurasi dua musim.
Menatap musim 2026/2027, Cahya memasang target tinggi. Ia ingin menjaga konsistensi performa, mempertahankan posisi sebagai kiper utama, sekaligus membawa PSIM bersaing lebih kompetitif.
Meski menyadari masih ada keraguan dari sejumlah pihak terhadap kekuatan tim, Cahya justru menjadikannya sebagai bahan bakar motivasi.
“Kami ingin membuktikan bahwa PSIM bisa bersaing. Target kami jelas, tampil maksimal dan merangsek ke papan atas,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Workshop P4GN di Kelurahan Gowongan mengajak warga mengenali gejala awal penyalahgunaan narkoba agar penanganan dan pemulihan bisa dilakukan lebih cepat.
PT Danantara Sumber Daya Alam bersiap mengimplementasikan pengelolaan ekspor SDA satu pintu pada 1 September 2026 untuk memperkuat pengawasan ekspor.
KPK mempersilakan Menteri PU Dody Hanggodo memberikan klarifikasi terkait polemik surat perjalanan dinas ke Amerika Serikat untuk menghindari simpang siur infor
BPBD Kabupaten Temanggung menerima permohonan bantuan air bersih dari lima dusun di Desa Gentan dan segera melakukan asesmen lapangan.
Menteri PU Dody Hanggodo membantah terlibat dugaan doxing terhadap dosen UGM Nabiyla Risfa Izzati dan menegaskan dirinya terbuka terhadap kritik.
Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris. Simak perjalanan politik mantan jurnalis dan eks Wali Kota Greater Manchester tersebut.