Dampak dari FIFA Wajibkan Jeda Hidrasi di Semua Laga Piala Dunia 2026

Jumali
Jumali Selasa, 16 Juni 2026 23:57 WIB
Dampak dari FIFA Wajibkan Jeda Hidrasi di Semua Laga Piala Dunia 2026

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA


Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu perubahan regulasi paling mencolok dalam sejarah turnamen. FIFA kini mewajibkan jeda hidrasi selama tiga menit pada setiap babak pertandingan, sebuah kebijakan yang langsung memicu perdebatan di kalangan pemain, pelatih, hingga pengamat sepak bola dunia.

Aturan tersebut mengharuskan wasit menghentikan pertandingan pada menit ke-22 setiap babak. Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya yang hanya menerapkan cooling break saat suhu mencapai tingkat tertentu, kebijakan terbaru ini berlaku untuk seluruh pertandingan tanpa memandang kondisi cuaca maupun fasilitas stadion.

Keputusan FIFA lahir setelah banyak keluhan muncul pada ajang Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat. Saat itu sejumlah pemain mengaku kesulitan bermain dalam suhu tinggi. Dilansir dari BBC, Gelandang Chelsea dan Timnas Argentina, Enzo Fernandez, bahkan menyebut kondisi tersebut berbahaya karena membuat pemain mengalami pusing di lapangan.

Keluhan serupa juga datang dari pemain Atletico Madrid Marcos Llorente yang mengaku mengalami ketidaknyamanan fisik akibat cuaca panas ekstrem selama pertandingan dan sesi latihan.

Meski diklaim untuk melindungi kesehatan pemain, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Pelatih Timnas Amerika Serikat Mauricio Pochettino menjadi salah satu sosok yang mempertanyakan urgensi penerapan jeda hidrasi di semua pertandingan.

Menurutnya, jeda semacam itu seharusnya hanya digunakan ketika kondisi cuaca benar-benar ekstrem. Pandangan serupa disampaikan kapten Belanda Virgil van Dijk yang dikutip dari CNA. Ia menilai penghentian pertandingan secara rutin justru mengganggu ritme permainan.

Namun tidak sedikit pelatih yang melihat aturan ini dari sisi berbeda. Pelatih Belgia Rudi Garcia menilai jeda hidrasi memberi kesempatan tambahan bagi pelatih untuk menyampaikan instruksi kepada pemain. Pelatih Prancis Didier Deschamps juga menganggap waktu tersebut sangat berguna untuk melakukan evaluasi cepat dan penyesuaian strategi di tengah pertandingan.

Faktanya, jeda hidrasi mulai berkembang menjadi instrumen taktis baru di Piala Dunia 2026.

Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengungkapkan jeda tersebut membantunya mengubah pendekatan permainan saat timnya tertinggal dari Maroko. Tak lama setelah pertandingan dilanjutkan, Brasil berhasil mencetak gol penyeimbang.

Hal serupa terjadi pada Timnas Jerman. Pelatih Julian Nagelsmann seperti dilansir dari The New York Times memanfaatkan jeda hidrasi untuk memberikan arahan teknis setelah Curacao berhasil menyamakan skor. Hasilnya, Jerman mampu bangkit dan mengakhiri laga dengan kemenangan telak.

Di balik alasan kesehatan dan strategi, muncul pula kritik terkait aspek komersial. Sejumlah pihak menilai jeda hidrasi membuka ruang tambahan bagi penyiar televisi untuk menayangkan iklan selama pertandingan berlangsung.

Mantan penyerang Inggris Ian Wright menjadi salah satu figur yang secara terbuka mempertanyakan apakah kepentingan siaran turut memengaruhi lahirnya kebijakan tersebut. Beberapa penyiar memang memanfaatkan jeda itu untuk menayangkan iklan singkat, meski ada pula yang memilih tetap menampilkan suasana pertandingan secara langsung.

Dari sisi medis, sejumlah pakar justru menilai tiga menit belum cukup untuk membantu pemulihan pemain dalam kondisi cuaca panas ekstrem. Douglas Casa dari Korey Stringer Institute menyarankan durasi jeda sebaiknya diperpanjang hingga lima atau enam menit agar manfaatnya lebih optimal.

Perdebatan kemungkinan masih akan berlangsung sepanjang turnamen. Namun satu hal yang mulai terlihat jelas, jeda hidrasi kini bukan lagi sekadar kesempatan pemain melepas dahaga. Aturan tersebut telah menjadi bagian dari dinamika baru sepak bola modern yang memengaruhi kesehatan pemain, strategi pelatih, hingga kepentingan industri penyiaran olahraga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online