Franco Morbidelli Kena Long Lap Penalty di MotoGP San Marino
Franco Morbidelli mendapat long lap penalty di MotoGP San Marino setelah dinilai mengganggu Enea Bastianini di Tikungan 13.
FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)
Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia 2026 resmi berakhir meski sorotan kepada Presiden FIFA Gianni Infantino tak berhenti di sana. FIFA dan Gianni Infantino panen kritik selama enam minggu terakhir terkait sejumlah isu selama pertandingan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, netralitas FIFA sudah dipertanyakan terutama saat memberi penghargaan FIFA Peace Prize kepada Presiden AS Donald Trump. Penghargaan buatan Infantino itu dianggap tak penting dan tak sesuai dengan fakta di tengah konflik AS, Israel, dan Iran.
Isu tersebut berlanjut hingga beberapa hari menjelang kick-off, di mana markas Timnas Iran terpaksa dipindah ke Tijuana, Meksiko, dan FIFA dianggap gagal menyelesaikan masalah visa.
Kontroversi lain terjadi saat FIFA menghapus skorsing Folarin Balogun jelang laga melawan Belgia atas permintaan Donald Trump. Keputusan ini semakin memperkuat citra Infantino yang dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan politik.
Presiden LaLiga Javier Tebas menjadi salah satu kritikus paling vokal. Ia meminta Infantino mundur karena sederet masalah yang menyeretnya.
"Menurut pendapat saya, ya [dia harus mengundurkan diri]. Tapi dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi, tidak banyak lagi yang perlu ditambahkan," ujar Tebas dikutip dari ESPN.
Tebas juga menyoroti tidak adanya kandidat oposisi karena semua tahu akan kalah. "Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin mencalonkan diri untuk kalah. Inilah sistemnya, dan sistem ini sakit dari akarnya," sambungnya.
Infantino Dilindungi Sistem, Banyak yang Bungkam
Gianni Infantino diperkirakan akan terpilih kembali untuk masa jabatan keempat pada kongres FIFA Maret 2027 karena mendapat dukungan kuat dari federasi-federasi anggota. Tebas mengklaim banyak orang internal FIFA yang tahu ada yang tidak beres selama Piala Dunia 2026, tetapi memilih bungkam.
"Saya tidak tahu apakah diam atau bersekongkol itu lebih buruk, karena mereka yang diam sangat menyadari kerusakan yang diderita sepak bola," ungkap Tebas.
Tebas juga menuduh FIFA melakukan penyesuaian aturan untuk kebutuhan non-sepak bola. Salah satunya adalah kebijakan jeda minum yang dinilai hanya untuk iklan.
"FIFA mengatur segala sesuatunya sesuai keinginannya, untuk kepentingannya sendiri, dan tentu saja bukan untuk sepak bola. Jeda minum adalah kebohongan. Stadion-stadion di Dallas, Los Angeles, dan Atlanta memiliki pendingin udara—saya harus memakai sweter di tribun! Itu bohong, hanya jeda untuk iklan," tegas Tebas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Franco Morbidelli mendapat long lap penalty di MotoGP San Marino setelah dinilai mengganggu Enea Bastianini di Tikungan 13.
Anak 7 tahun ditemukan meninggal di Sungai Winongo Kecil Bantul. Korban sempat shalat zuhur sebelum bermain seorang diri di sekitar sungai.
Presiden Dewan ICAO Toshiyuki Onuma meninjau fasilitas pelatihan dan navigasi udara Indonesia yang berstandar internasional.
Kereta kelinci membawa 46 warga Desa Beji terguling di Gunung Pegat Klaten. Empat penumpang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
AISITS merekam jejak Virgo Transport 8 hingga pukul 22.33 WIB dengan kecepatan 12,9 knot sebelum sinyal kapal berhenti terdeteksi.
Gunungkidul bersiap menghadapi revalidasi Geopark Gunungsewu sebagai UNESCO Global Geopark pada 2027 dengan membenahi sejumlah catatan UNESCO.