Pria di Pajangan Bantul Tewas Penuh Luka, 3 Orang Ditangkap
Polisi mengungkap kematian Triyanto di Pajangan, Bantul, diduga akibat penganiayaan. Tiga orang diamankan dan masih diperiksa.
Suasana gelaran YOT VI di GOR UNY pada Minggu (30/8/2026). Sebanyak 3.000 peserta usia dini ikut memeriahkan agenda tahunan yang memperebutkan Piala Kemenpora tersebut. Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Yogyakarta Open Tournament (YOT) VI tak hanya menjadi arena persaingan karateka dari berbagai daerah dan negara. Kejuaraan yang berlangsung di GOR UNY selama tiga hari, Jumat-Minggu (28-30/8/2026), tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan atlet karate sejak usia dini.
Wakil Ketua Panitia YOT VI Hanung Prajarta mengatakan lebih dari 3.000 peserta kategori festival merupakan atlet pemula. Mayoritas di antaranya adalah anak-anak usia dini yang baru mulai mengenal dan berlatih karate.
Kategori festival memang disiapkan sebagai tahap awal bagi atlet untuk mengenal atmosfer pertandingan. Selain kemampuan teknik, peserta belajar memasuki arena dan memahami situasi yang dihadapi saat bertanding.
"Tujuannya untuk mendidik bagaimana caranya bertanding karate, cara masuk lapangan, dan memahami situasi di lapangan pertandingan," kata Hanung, Minggu (30/8/2026).
Pembinaan sejak kategori festival dinilai penting sebelum atlet naik ke kategori Open yang diperuntukkan bagi atlet berprestasi. Dengan tahapan tersebut, festival menjadi pintu masuk bagi atlet pemula untuk berkembang menuju kompetisi dengan level yang lebih tinggi.
Peserta YOT VI Tembus 5.200 Karateka
Antusiasme terhadap YOT juga terus meningkat. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah peserta secara keseluruhan mencapai sekitar 4.800 orang, sedangkan YOT VI berhasil menembus 5.200 peserta.
"Antusiasmenya semakin tinggi. Anak-anak dari usia SD sekarang banyak yang menggeluti latihan karate," ujarnya.
Dari total peserta tersebut, sekitar 2.000 atlet turun di kategori Open. Persaingan di kelas ini berlangsung ketat karena banyak atlet berprestasi ikut ambil bagian.
"Kalau juara di sini, itu bukan juara kaleng-kaleng karena pool-nya banyak. Kalau bukan atlet juara, sulit untuk menembus tiga besar," katanya.
Pada hari terakhir, panitia juga menggelar kelas Best of the Best (BOB) yang mempertemukan para juara. Pemenang kelas tersebut mendapatkan medali khusus serta uang pembinaan.
Regenerasi Atlet Jadi Perhatian
Hanung mengatakan penyelenggaraan YOT juga menjadi bagian dari upaya menjaga regenerasi atlet karate. Kejuaraan tersebut telah mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan Nomor /HK.08.03/3.30.14/MPO/III/2026 serta Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) bernomor :03/REK/PB.FORKI-SEKJEN/I/2026.
"YOT ini juga telah dijadikan salah satu ajang oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas)," ungkapnya.
Meski jumlah atlet yang mengikuti pembinaan cukup menjanjikan, Hanung mengingatkan kualitas tetap menjadi pekerjaan rumah. Menurut dia, pembinaan karate perlu dilakukan secara berjenjang, mulai dari sabuk dasar, sabuk berwarna hingga sabuk hitam.
Ia membagi peserta karate ke dalam tiga kelompok. Ada yang sekadar mengikuti teman, menjadikan karate sebagai kegiatan rekreasi, dan atlet yang memang berorientasi pada prestasi.
"Kalau untuk berprestasi, latihan seminggu satu-dua kali tidak cukup. Minimal empat kali," katanya.
Ketika seorang atlet masuk pusat pelatihan, intensitas latihan bahkan dapat mencapai enam hari dalam sepekan dengan satu hari libur. Dalam proses tersebut, pelatih akan melihat potensi masing-masing atlet, termasuk kemampuan, minat, dan keseriusannya.
"Ini ada bakat dan senang. Ada bakat tapi kalau tidak senang ya tidak muncul. Ini kalau dipoles bisa berbakat, dan yang satu lagi sekadar ikut-ikutan," ujarnya.
Diikuti Kontingen India, Filipina, dan Malaysia
Ketua Panitia YOT VI Suparmadi mengatakan kompetisi tersebut juga diikuti kontingen dari India, Filipina, dan Malaysia. Pertandingan memperlombakan nomor kata dan kumite dengan kategori mulai prausia dini hingga senior.
Menurut Suparmadi, YOT VI tidak hanya diarahkan untuk mencari pemenang. Ajang tersebut juga menjadi sarana memotivasi atlet sekaligus melihat perkembangan karateka di tingkat nasional dan internasional.
Kompetisi ini diharapkan dapat mendorong pola pembinaan yang terintegrasi sehingga perkembangan olahraga karate dapat terus meningkat.
"Harapannya seluruh atlet bisa meningkatkan potensi sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding di tingkat internasional," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi mengungkap kematian Triyanto di Pajangan, Bantul, diduga akibat penganiayaan. Tiga orang diamankan dan masih diperiksa.
Iran menuding elemen pemerintah AS dan aktor yang bersekutu dengan Israel berupaya memanipulasi pasar energi global di tengah konflik.
DPRD DIY menyoroti perubahan data desil yang menjadi basis sejumlah kebijakan, termasuk bantuan sosial dan kepesertaan BPJS.
Pemkot Jogja mendorong koperasi mengembangkan sektor riil melalui SiKepo agar usaha anggota dan koperasi terintegrasi serta lebih produktif.
Lima tokoh disebut masuk bursa Ketum PBNU 2026-2031. Simak profil, pengalaman, dan gagasan para kandidat dalam Muktamar ke-35 NU.
YOT VI di GOR UNY diikuti 5.200 karateka. Ajang ini menjadi wadah pembinaan atlet usia dini hingga kompetisi tingkat internasional.