Bukan Cuma Mesin 850 cc, Bahan Bakar MotoGP 2027 Bisa Tembus Rp1,7 Juta per Liter

Jumali
Jumali Kamis, 24 September 2026 20:07 WIB
Bukan Cuma Mesin 850 cc, Bahan Bakar MotoGP 2027 Bisa Tembus Rp1,7 Juta per Liter

Foto ilustrasi Motogp. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Perubahan regulasi MotoGP 2027 tidak hanya menyentuh kapasitas mesin. Penggunaan bahan bakar non-fosil 100% juga berpotensi membuat biaya operasional tim melonjak tajam.

Salah satu gambaran mengenai mahalnya bahan bakar generasi baru itu muncul dari laporan GPOne. Dalam pembahasan di MotoGP Austria, pemasok bahan bakar ETS Racing Fuels disebut menawarkan e-fuel kepada Aprilia untuk musim 2027 dengan harga 86 euro per liter.

Dengan kurs yang digunakan dalam laporan tersebut, nominal itu setara sekitar Rp1,75 juta per liter. Namun, angka tersebut merupakan harga dari sebuah penawaran e-fuel dan belum berarti seluruh tim MotoGP akan membeli bahan bakar dengan harga yang sama pada musim 2027.

Sebagai pembanding, GPOne menyebut harga bahan bakar MotoGP saat ini berada di kisaran 10-15 euro per liter. Dengan demikian, jika harga 86 euro tersebut benar-benar menjadi acuan, biaya bahan bakar dapat meningkat sekitar 5,7 hingga 8,6 kali lipat.

Aturan Baru MotoGP 2027

Mulai musim 2027, seluruh kelas Grand Prix diwajibkan menggunakan bahan bakar yang 100% berasal dari sumber non-fosil. Ketentuan tersebut merupakan kelanjutan dari aturan yang berlaku sejak 2024, ketika bahan bakar minimal harus mengandung 40% komponen non-fosil.

FIM dan MotoGP tidak membatasi sumbernya hanya pada e-fuel. Bahan bakar yang memenuhi ketentuan tersebut dapat berasal dari sumber hayati atau e-fuel yang dibuat dengan menangkap karbon di atmosfer. Status non-fosilnya akan diverifikasi melalui pengujian kandungan karbon C14.

Perubahan bahan bakar tersebut berjalan bersamaan dengan regulasi teknis baru. Kapasitas mesin MotoGP akan diturunkan dari 1.000 cc menjadi maksimal 850 cc mulai 2027.

Satu Pebalap Bisa Habiskan Rp4,4 Miliar

Besarnya biaya bahan bakar tidak hanya dipengaruhi harga per liter. Kebutuhan konsumsi selama satu musim juga cukup besar.

Menurut perhitungan yang dikutip GPOne, kebutuhan bahan bakar untuk seorang pebalap mencapai sekitar 2.555 liter per tahun, mencakup kegiatan balapan dan pengujian. Dengan harga saat ini sebesar 10-15 euro per liter, biaya bahan bakarnya berada di kisaran 25.550-38.325 euro per tahun.

Jika harga 86 euro per liter digunakan sebagai simulasi, kebutuhan 2.555 liter tersebut menghasilkan biaya sekitar 219.730 euro dalam setahun. Dengan konversi yang digunakan dalam laporan, nilainya mencapai sekitar Rp4,4 miliar.

Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan harga penawaran yang diberitakan, bukan tarif resmi bahan bakar MotoGP 2027.

Biaya Bahan Bakar Satu Tim Bisa Rp70 Miliar

Kebutuhan bahan bakar semakin besar ketika dihitung dalam skala satu tim atau organisasi pabrikan.

GPOne mencatat salah satu pabrikan memperkirakan konsumsi sekitar 54 liter untuk setiap hari Grand Prix dan tes resmi yang melibatkan empat pebalap. Jika digabung dengan konsumsi dua pebalap penguji serta pengembangan mesin di dyno, total kebutuhan dapat mencapai sekitar 40.000 liter per tahun.

Dengan asumsi seluruh volume tersebut dibeli dengan harga 86 euro per liter, biaya yang harus disiapkan mencapai 3,44 juta euro, atau sekitar Rp70 miliar.

Besaran itu tentu masih berupa simulasi. Harga akhir bahan bakar MotoGP 2027, skema pemasokan, serta pihak yang menanggung biayanya masih menjadi bagian dari pembahasan menjelang penerapan regulasi baru.

Selain harga bahan bakar, MotoGP juga akan mengubah batas penggunaan bahan bakar dalam balapan. Mulai 2027, kapasitas bahan bakar untuk Grand Prix dibatasi maksimal 20 liter, sedangkan Sprint menjadi 11 liter.

Dengan demikian, era baru MotoGP bukan hanya akan menghadirkan mesin 850 cc dan bahan bakar non-fosil, tetapi juga tantangan baru bagi tim dalam mengelola biaya pengembangan dan operasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online