Indonesia 0-0 Malaysia, Media Vietnam Puji Penampilan Maarten Paes
Maarten Paes disorot media Vietnam setelah Indonesia menahan Malaysia 0-0. Paes dinilai berperan penting saat Garuda bermain 10 pemain.
Logo Asian Games
Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan menjadi juara umum Asian Games dalam sejarahnya didominasi dua negara, yakni Jepang dan Tiongkok. Jepang menguasai delapan edisi pertama, sebelum Tiongkok mengambil alih posisi teratas pada 1982 dan mempertahankannya dalam setiap edisi berikutnya hingga Hangzhou.
Asian Games menjadi salah satu ajang olahraga terbesar di Asia yang mempertemukan atlet dari berbagai negara dalam persaingan memperebutkan medali. Selain perjuangan individu dan tim di setiap cabang olahraga, perolehan emas juga menentukan posisi kontingen dalam klasemen akhir.
Dalam sejarah Asian Games, Jepang dan Tiongkok menjadi dua negara yang paling sering menempati posisi teratas klasemen. Jepang mengawali dominasi sejak edisi perdana pada 1951, sedangkan Tiongkok baru merebut gelar juara umum pada 1982.
Berdasarkan catatan OCA, Jepang telah delapan kali menjadi juara umum Asian Games, sedangkan Tiongkok mengoleksi 11 gelar. Hingga edisi Hangzhou 2022 yang penyelenggaraannya berlangsung pada 2023, hanya dua negara tersebut yang pernah menjadi juara umum.
Jepang menjadi juara umum pada delapan edisi pertama Asian Games secara beruntun. Dominasi tersebut dimulai pada Asian Games 1951 di New Delhi dan berlanjut hingga edisi 1978 di Bangkok.
Pada edisi perdana 1951, Jepang berada di posisi pertama klasemen dengan 24 medali emas, 21 perak, dan 15 perunggu. Setelah itu, Jepang kembali memuncaki klasemen pada 1954, 1958, 1962, 1966, 1970, 1974, dan 1978.
Kekuatan Jepang terlihat jelas ketika Asian Games 1962 digelar di Jakarta. Jepang keluar sebagai juara umum dengan 73 emas, 55 perak, dan 24 perunggu, sementara Indonesia berada di posisi kedua dengan 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu.
Pada Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang juga menjadi pemuncak klasemen dengan 67 emas, 41 perak, dan 30 perunggu. Catatan tersebut menunjukkan posisi Jepang sebagai kekuatan utama pada fase awal sejarah Asian Games.
Dominasi itu bertahan sampai Bangkok 1978. Saat itu Jepang kembali berada di posisi pertama dengan 70 emas, 58 perak, dan 49 perunggu. Tiongkok yang berada di posisi kedua mengumpulkan 51 emas, 55 perak, dan 45 perunggu.
Perubahan peta kekuatan terjadi pada Asian Games 1982 di New Delhi. Tiongkok untuk pertama kalinya menjadi negara dengan perolehan medali terbanyak dan mengakhiri rentetan delapan gelar Jepang.
Pada edisi tersebut, Tiongkok mengumpulkan 61 emas, 51 perak, dan 41 perunggu. Jepang berada tepat di bawahnya dengan 57 emas, 52 perak, dan 44 perunggu. OCA mencatat New Delhi 1982 sebagai awal dominasi Tiongkok dalam perolehan medali Asian Games.
Empat tahun kemudian, Tiongkok kembali menjadi juara umum di Seoul 1986. Sejak saat itu, posisi teratas tidak lagi berpindah ke negara lain.
Rentetan tersebut berlanjut pada edisi 1990, 1994, 1998, 2002, 2006, 2010, 2014, 2018, hingga Hangzhou 2022.
Tiongkok telah 11 kali menjadi juara umum Asian Games, yakni pada 1982, 1986, 1990, 1994, 1998, 2002, 2006, 2010, 2014, 2018, dan Hangzhou 2022.
Pada Asian Games Hangzhou, yang digelar pada 2023 setelah mengalami penundaan, Tiongkok kembali memimpin klasemen dengan 201 medali emas, 111 perak, dan 71 perunggu atau total 383 medali. Jepang berada di posisi kedua dengan 52 emas, 67 perak, dan 69 perunggu.
Catatan tersebut membuat Tiongkok memperpanjang dominasinya yang dimulai pada 1982. OCA juga mencatat Tiongkok selalu memuncaki klasemen perolehan medali pada setiap edisi sejak 1982.
Jika dihitung berdasarkan jumlah gelar hingga Hangzhou 2022, Tiongkok menjadi negara yang paling sering juara umum Asian Games dengan 11 gelar. Jepang berada di urutan berikutnya dengan delapan gelar.
Rinciannya:
Jepang: 8 gelar
1951
1954
1958
1962
1966
1970
1974
1978
Tiongkok: 11 gelar
1982
1986
1990
1994
1998
2002
2006
2010
2014
2018
2022
Dengan demikian, dari 19 edisi Asian Games yang telah selesai hingga Hangzhou, hanya Jepang dan Tiongkok yang pernah menjadi juara umum. Asian Games Aichi-Nagoya 2026 merupakan edisi ke-20 dan masih berlangsung pada September-Oktober 2026, sehingga belum masuk dalam perhitungan gelar juara umum historis tersebut.
Indonesia belum pernah menjadi juara umum Asian Games. Namun, prestasi terbaik Indonesia terjadi ketika menjadi tuan rumah Asian Games 1962 di Jakarta.
Pada saat itu, Indonesia menempati posisi kedua di bawah Jepang dengan raihan 11 medali emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Catatan tersebut masih menjadi posisi tertinggi Indonesia dalam sejarah keikutsertaannya di Asian Games.
Indonesia kembali menjadi tuan rumah pada 2018 di Jakarta dan Palembang. Pada edisi tersebut, Indonesia finis di posisi keempat setelah mengumpulkan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu atau total 98 medali.
Tiongkok menjadi juara umum Asian Games 2018 dengan 132 emas, 92 perak, dan 65 perunggu. Perolehan tersebut menambah koleksi gelar Tiongkok menjadi 10 sebelum kembali memimpin klasemen di Hangzhou.
Hingga Hangzhou 2022, Tiongkok memegang rekor 11 gelar juara umum Asian Games, sementara Jepang mengoleksi delapan gelar. Indonesia sendiri belum pernah mencapai posisi teratas, dengan pencapaian terbaik berupa posisi kedua saat menjadi tuan rumah Jakarta 1962.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Maarten Paes disorot media Vietnam setelah Indonesia menahan Malaysia 0-0. Paes dinilai berperan penting saat Garuda bermain 10 pemain.
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Masinis KA Argo Bromo Anggrek ditetapkan sebagai tersangka kecelakaan di Bekasi. Ancaman hukuman maksimal 5 hingga 12 tahun penjara.
Pilur Gunungkidul di 31 kalurahan berlangsung aman. Lurah terpilih ditargetkan dilantik 26 November 2026 setelah tahapan administrasi selesai.
Paus Leo XIV menyerukan Eropa memperkuat peran menjaga perdamaian global dan mendorong dialog untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.
Defisit APBD-P Bantul 2026 membesar menjadi Rp154 miliar. Bupati Abdul Halim Muslih meminta OPD memperketat efisiensi anggaran.