Piala Asia 2027 Dibayangi Serangan Rudal, Keselamatan Pemain Jadi Sorotan

Jumali
Jumali Selasa, 13 Oktober 2026 17:57 WIB
Piala Asia 2027 Dibayangi Serangan Rudal, Keselamatan Pemain Jadi Sorotan

Foto ilustrasi sepak bola, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. - StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Situasi keamanan di Arab Saudi menjadi perhatian menjelang Piala Asia 2027 setelah serangkaian serangan rudal yang diklaim dilakukan kelompok Houthi menyasar Riyadh. Eskalasi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan pemain, ofisial, dan suporter yang akan datang ke negara tuan rumah turnamen sepak bola Asia itu.

Dampak situasi keamanan bahkan sudah terasa dalam agenda sepak bola di Riyadh. Pertandingan Al Nassr melawan Neftchi Fergana pada ajang AFC Champions League Elite, Senin (12/10/2026), tertunda sekitar satu jam setelah otoritas pertahanan sipil mengeluarkan peringatan keamanan.

Associated Press melaporkan, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh pada hari tersebut. Setelah situasi dinyatakan terkendali, pertandingan tetap berlangsung dan Al Nassr menang 3-1.

Serangkaian serangan sebelumnya juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan ratusan orang terluka di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Kondisi itu memperbesar perhatian terhadap keamanan kawasan menjelang agenda olahraga internasional berikutnya.

Lima Stadion Piala Asia 2027 Berada di Riyadh

Piala Asia 2027 dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Arab Saudi akan menjadi tuan rumah dengan pertandingan tersebar di tiga kota, yakni Riyadh, Jeddah, dan Al Khobar.

Riyadh menjadi salah satu titik utama turnamen. Lima dari delapan stadion yang disiapkan berada di ibu kota Arab Saudi tersebut. Kota itu juga akan menggelar 31 pertandingan, termasuk laga pembuka antara Arab Saudi dan Palestina pada 7 Januari serta partai final pada 5 Februari.

Risiko keamanan juga menjadi perhatian di wilayah timur Arab Saudi. Al Khobar, kota di pesisir Teluk Persia, dijadwalkan menjadi lokasi tujuh pertandingan, salah satunya duel Australia melawan Singapura pada 9 Januari.

Dengan sejumlah pertandingan terpusat di Riyadh dan agenda lain berlangsung di Al Khobar, perkembangan situasi keamanan berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam persiapan tim peserta maupun pengelola turnamen.

FIFPRO Minta Keselamatan Pemain Jadi Prioritas

Kekhawatiran mengenai situasi di Arab Saudi turut disoroti FIFPRO, serikat pemain sepak bola profesional dunia. Presiden FIFPRO Asia/Oseania, Beau Busch, menyampaikan keprihatinan terhadap masyarakat yang terdampak konflik sekaligus mengakui adanya kekhawatiran pemain menjelang Piala Asia.

Busch, yang juga menjabat sebagai kepala eksekutif Professional Footballers Australia (PFA), menegaskan keselamatan pemain, suporter, dan staf harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan serta penyelenggaraan turnamen.

Ia mengatakan PFA dan FIFPRO terus memantau perkembangan situasi serta berkomunikasi dengan Federasi Sepak Bola Australia (Football Australia) dan para ahli terkait.

Penilaian risiko, menurut Busch, akan tetap penting menjelang Piala Asia karena kondisi keamanan di kawasan tersebut terus berubah. Langkah itu juga berkaitan dengan agenda tim nasional Australia yang dijadwalkan menghadapi Qatar di Doha dan Yordania di Amman pada jendela pertandingan internasional November.

Football Australia pun menyatakan terus memantau situasi di Arab Saudi dan berkoordinasi dengan PFA serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Organisasi tersebut menempatkan keselamatan pemain, staf, dan pendukung sebagai perhatian utama dalam persiapan menuju turnamen.

Jepang Mundur dari FIFAe World Cup 2026

Kekhawatiran mengenai keamanan di Arab Saudi sebelumnya juga berdampak pada agenda olahraga elektronik. Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) memutuskan tidak mengirimkan tim nasional e-sports mereka ke FIFAe World Cup 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jeddah pada 16–23 Oktober 2026.

Dalam pernyataan resminya, JFA menyebut keputusan itu diambil setelah melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi terkini di negara tuan rumah serta informasi yang tersedia mengenai keselamatan dan keamanan.

Keputusan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana kondisi keamanan mulai memengaruhi keikutsertaan peserta dalam agenda olahraga yang direncanakan berlangsung di Arab Saudi.

Hingga laporan The Guardian pada Selasa (13/10/2026), AFC belum memberikan komentar mengenai kekhawatiran pemain terhadap penyelenggaraan Piala Asia 2027.

Dengan turnamen dijadwalkan berlangsung pada awal tahun depan, perkembangan situasi di Timur Tengah dan hasil evaluasi risiko akan menjadi perhatian bagi federasi peserta, pemain, serta penyelenggara dalam beberapa bulan mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online