Di Balik Gelar Dunia Spanyol Ada Filosofi yang Tak Biasa
Luis de la Fuente sukses membawa Spanyol juara Piala Dunia 2026. Filosofi kebersamaan dan kekuatan tim menjadi kunci keberhasilan La Roja.
Nerius Alom / Harian Jogja-Jumali
Harianjogja.com, SLEMAN - PSS Sleman resmi mendatangkan pemain baru di posisi gelandang bertahan, Nerius Alom, Rabu (30/1/2019) pagi.
Pemain yang musim lalu berbaju PSIS Semarang ini mulai terlihat bersama tim dan berkemungkinan untuk diturunkan saat PSS Sleman menjamu Barito Putera pada leg kedua babak 32 besar Piala Indonesia di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (31/1/2019) mendatang.
"Sudah kontrak, tapi nanti untuk lebih jelas setelah main," kata Nerius Alom usai latihan di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (30/1/2019).
"Pertimbangannya faktor keluarga, karena Kalteng Putera jauh. Dari sini ke Jayapura juga relatif lebih dekat, begitu," lanjut Alom.
Alom sendiri bermain sebanyak 14 kali pertandingan bersama PSIS Semarang di musim 2018. Saat ini, Alom mengaku memiliki target pribadi membawa PSS jauh lebih baik dan bertahan di Liga 1.
"PSS Sleman tim yang bagus, sebisa masuk 10 besar dan bertahan di Liga 1, itu target saya. Saya ingin bawa PSS Sleman bertahan dan bisa lebih baik," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Luis de la Fuente sukses membawa Spanyol juara Piala Dunia 2026. Filosofi kebersamaan dan kekuatan tim menjadi kunci keberhasilan La Roja.
DPR mengesahkan UU PFII. Simak poin penting mengenai otoritas khusus, insentif pajak, pengawasan, hingga target investasi Rp500 triliun.
KPK memeriksa delapan orang terkait OTT Bupati Lombok Barat, termasuk kepala daerah, Dirut Perseroda, pejabat PUPR, dan pihak swasta.
Pelatih PSIM Jogja Jean-Paul Van Gastel menilai PSIM dan suporternya menjadi pihak paling dirugikan karena Mandala Krida belum bisa dipakai.
PGN menurunkan tim darurat usai dugaan ledakan gas pipa tanam merobohkan rumah di Medan yang menewaskan satu orang dan dua korban masih hilang.
Nama resmi Jalan Ipda Tut Harsono sudah berlaku, tetapi warga Jogja tetap akrab menyebutnya Jalan Timoho. Ini alasan di balik fenomenanya.