PPATK Catat 467 Juta Transaksi Judol, DPR Minta Polri Bertindak
DPR meminta Polri memperkuat pemberantasan judi online setelah PPATK mencatat 467,32 juta transaksi judol pada semester I 2026.
Sepakbola putri - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA—Ekosistem sepak bola anak, khususnya di kelompok usia 10–12 tahun untuk putri perlu pengembangan. Hal ini disampaikan pelatih sepak bola profesional Timo Scheunemann.
Menurut Scheunemann, anak-anak pada usia tersebut idealnya mengikuti latihan tim sebanyak dua hingga tiga kali seminggu, ditambah satu pertandingan. Sementara bagi anak-anak yang memiliki bakat lebih, latihan bisa dilakukan hingga empat kali per minggu.
“Latihan bersama itu penting, tapi latihan individual jauh lebih penting di usia segitu,” ungkap Scheunemann kepada Antara di Jakarta, Minggu (4/5/2025).
Scheunemann juga menyoroti perbedaan pendekatan antara Sekolah Sepak Bola (SSB) dan institusi pendidikan formal. Ia menilai kompetisi untuk anak laki-laki lebih ideal jika dilakukan antar-SSB karena para pemain di sana sudah memiliki minat kuat terhadap sepak bola.
Sebaliknya, untuk sepak bola putri, kompetisi antar-SSB masih sulit dilakukan karena jumlah SSB putri sangat sedikit.
BACA JUGA: Terinspirasi Buckingham Palace, Kadipaten Pakualaman Gelar Upacara Ganti Dwaja
“Oleh karena itu, kami membangun ekosistem sepak bola putri melalui sekolah. Kami turun langsung ke SD, memberikan pemahaman dan menunjukkan manfaat partisipasi di kompetisi ini,” jelasnya.
Scheunemann bersama Bakti Olahraga Djarum Foundation saat ini sedang menginisiasi berbagai turnamen sepak bola usia dini khusus putri. Ia sudah dua tahun mengurusi berbagai pelatihan sepak bola putri bersama yayasan tersebut.
Ia menambahkan, melalui pendekatan ini, diharapkan muncul bibit-bibit pemain yang nantinya akan mencari pelatihan tambahan di SSB dan memperluas jaringan pengembangan pemain putri.
Saat ini, timnas sepak bola putri Indonesia sudah mengukir beberapa prestasi internasional. Sejumlah pencapaian itu diharapkan Scheunemann dapat melahirkan idola-idola baru bagi para siswi atau perempuan muda untuk menggeluti sepak bola.
Meski Indonesia sudah memiliki tim nasional sepak bola putri yang tampil di ajang regional, pelatih menyebut tantangan masih besar di tingkat akar rumput. Ia menekankan pentingnya kehadiran sosok idola seperti Shafira Ika dan Claudia Scheunemann yang bisa menginspirasi anak-anak dan mendapat dukungan dari orang tua.
“Kayak pemain-pemain seperti Shafira Ika, main bola tapi cantik ya. Terus kayak Claudia, keponakan saya, dia jago main, terus atletis gitu ya. Terus kan tetap feminin, tetap ceweknya cewek banget gitu kan. Jadi mereka bisa ngeliat, oh iya ini, itu penting kenapa? Buat anak-anak dan orang tuanya itu bisa punya idola yang asik gitu, yang tidak negatif gitu,” kata Scheunemann.
“Anak-anak perlu melihat bahwa bermain bola tidak membuat mereka kehilangan sisi feminin. Itu penting untuk menghapus stigma,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
DPR meminta Polri memperkuat pemberantasan judi online setelah PPATK mencatat 467,32 juta transaksi judol pada semester I 2026.
Cara menghapus kontak WhatsApp di Android ternyata mudah. Simak langkah lengkap menghapus nomor yang tidak diperlukan tanpa menghilangkan riwayat percakapan.
Booth BAIC di GIIAS 2026 diserbu lebih dari 12.000 pengunjung. BAIC T1 jadi magnet dengan promo menarik dan ratusan sesi test drive.
Dinkes Bantul menegaskan anak yang sudah keluar dari kategori stunting tetap berisiko kembali mengalami stunting. Pemantauan dan intervensi berkelanjutan menjad
Marco Bezzecchi mengaku belum pulih 100 persen dari cedera jelang MotoGP Inggris 2026 di Silverstone. Rider Aprilia itu memilih memasang target realistis setela
Timnas Indonesia wajib menang lawan Singapura di laga pamungkas Grup A Piala AFF 2026. Hasil imbang atau kalah akan mengakhiri langkah Garuda.