8 Juta Orang Teken Petisi, Minta Argentina Dicoret dari Piala Dunia

Jumali
Jumali Rabu, 15 Juli 2026 11:27 WIB
8 Juta Orang Teken Petisi, Minta Argentina Dicoret dari Piala Dunia

Petisi untuk Argentina/argentinaout.com

Harianjogja.com, JOGJA—Argentina kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026. Bukan hanya karena keberhasilannya melaju hingga fase akhir turnamen, tetapi juga akibat kontroversi yang muncul setelah kemenangan dramatis atas Mesir di babak 16 besar.

Di tengah euforia keberhasilan tim berjuluk Albiceleste tersebut, sebuah petisi online yang menyerukan diskualifikasi Argentina dari Piala Dunia viral di berbagai platform media sosial. Petisi itu disebut telah mengumpulkan lebih dari enam juta tanda tangan dan memicu perdebatan luas di kalangan pencinta sepak bola dunia.

Petisi yang beredar melalui situs argentinaout.com menuding FIFA dan perangkat pertandingan memberikan perlakuan khusus kepada Argentina serta kapten mereka, Lionel Messi. Para penggagas petisi menilai kondisi tersebut mencederai prinsip persaingan yang adil dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Dalam petisi tersebut, para pendukungnya mempertanyakan netralitas FIFA dan wasit yang bertugas sepanjang perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026.

"Sudah jelas FIFA dan para wasit berpihak kepada Lionel Messi dan Argentina. Mengapa negara lain harus bersaing jika pemenangnya sudah ditentukan? Keluarkan Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil bagi tim lainnya," demikian isi petisi tersebut sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Rabu (15/7/2026).

Kontroversi semakin membesar setelah laga Argentina kontra Mesir di babak 16 besar. Dalam pertandingan itu, Argentina sempat berada dalam posisi sulit setelah tertinggal dua gol lebih dulu.

Situasi makin berat karena Lionel Messi gagal memanfaatkan peluang penalti pada babak pertama. Namun Albiceleste berhasil bangkit secara luar biasa dengan mencetak tiga gol dalam 13 menit terakhir pertandingan untuk membalikkan keadaan dan mengamankan tiket ke perempat final.

Mesir menilai hasil pertandingan tersebut tidak lepas dari sejumlah keputusan kontroversial yang diambil wasit setelah melibatkan teknologi Video Assistant Referee (VAR).

Pihak Mesir menyoroti gol mereka yang dianulir usai tinjauan VAR karena dianggap terjadi pelanggaran dalam proses serangan. Sebaliknya, mereka menilai gol kemenangan Argentina seharusnya juga mendapat pemeriksaan lebih lanjut karena diduga diawali pelanggaran terhadap Mohamed Salah.

Menurut kubu Mesir, jika insiden tersebut ditinjau secara menyeluruh, gol Argentina semestinya tidak disahkan dan mereka justru berhak memperoleh hadiah penalti.

Pelatih Mesir Hossam Hassan menjadi sosok yang paling vokal mengkritik jalannya pertandingan. Ia secara terbuka mempertanyakan keputusan-keputusan yang terjadi dan menuding hasil pertandingan telah diarahkan untuk memastikan Argentina tetap bertahan di turnamen.

"Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan, apa pun risikonya. Ini jelas telah diatur dan semua orang melihatnya. Jika mereka memang sangat ingin Argentina menang, mengapa masih mengundang negara lain untuk ikut Piala Dunia?" kata Hassan.

Hassan juga mempertanyakan slogan Fair Play yang selama ini dikampanyekan FIFA. Menurutnya, sejumlah keputusan krusial dalam pertandingan tersebut tidak mencerminkan semangat keadilan yang selalu digaungkan badan sepak bola dunia itu.

"FIFA mempromosikan 'Fair Play', tetapi kami tidak melihatnya di lapangan. Tanpa kesalahan-kesalahan itu, hasil pertandingan pasti akan berbeda," ujarnya.

Di sisi lain, Argentina menolak seluruh tudingan yang diarahkan kepada mereka. Pelatih Lionel Scaloni menegaskan tidak ada perlakuan khusus yang diterima timnya selama mengikuti Piala Dunia 2026.

Menurut Scaloni, tuduhan semacam itu bukan hal baru bagi Argentina. Ia mengingatkan bahwa kritik serupa juga muncul ketika negaranya menjuarai Piala Dunia 1986.

"Pada 1986 mereka juga mengatakan Argentina mendapat keuntungan yang tidak adil. Ini bukan hal baru bagi kami," ujar Scaloni dalam konferensi pers menjelang laga semifinal.

Scaloni menilai perkembangan teknologi justru membuat peluang terjadinya keberpihakan semakin kecil. Kehadiran VAR dan berbagai perangkat pendukung dinilai telah mempersempit ruang interpretasi yang dapat memengaruhi hasil pertandingan.

"Dengan VAR dan seluruh teknologi yang kami miliki sekarang, sangat sulit membantu siapa pun. Tidak ada ruang untuk interpretasi yang berbeda," katanya.

Ia mencontohkan bahwa pelanggaran yang tertangkap kamera akan tetap dinilai sebagai pelanggaran tanpa memandang identitas tim yang bertanding. Jika sebuah gol lahir dari proses yang melanggar aturan, maka keputusan pembatalan gol akan diterapkan sesuai regulasi yang berlaku.

Scaloni juga menilai media sosial berperan besar dalam mempercepat penyebaran kontroversi. Menurutnya, berbagai potongan video dan opini yang beredar membuat perdebatan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan era sebelumnya.

"Media sosial memperbesar semua hal sehingga kontroversi cepat menyebar. Namun tidak ada keberpihakan. Justru sekarang sangat sulit membantu tim tertentu. Mungkin dulu hal seperti itu bisa terjadi, saya tidak tahu, tetapi saat ini hampir mustahil," ujarnya.

Kini Argentina masih bertahan dalam persaingan menuju gelar juara dunia dan dijadwalkan menghadapi Inggris pada babak semifinal. Sementara itu, polemik mengenai petisi diskualifikasi dan tudingan keberpihakan terhadap Lionel Messi terus menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola internasional.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang muncul, perjalanan Argentina menuju fase akhir Piala Dunia 2026 dipastikan akan terus berada di bawah sorotan dunia. Setiap keputusan wasit dan penggunaan VAR dalam pertandingan mereka berpotensi kembali memicu diskusi yang tidak kalah panas hingga turnamen berakhir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online