Badai Skandal Balogun Guncang FIFA, Posisi Infantino Justru Kian Kokoh

Jumali
Jumali Sabtu, 18 Juli 2026 09:17 WIB
Badai Skandal Balogun Guncang FIFA, Posisi Infantino Justru Kian Kokoh

FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)

Harianjogja.com, JOGJA— Kabar mengejutkan datang dari panggung politik sepak bola dunia. Di tengah badai skandal pembatalan sanksi pemain Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang sempat mengguncang Piala Dunia 2026, Presiden FIFA Gianni Infantino justru menunjukkan ketangguhannya.

Alih-alih terancam, ia malah kebanjiran dukungan formal dari lebih dari 200 asosiasi anggota, menjauhkan dirinya dari risiko tergeser dari kursi tertinggi Federasi Sepak Bola Dunia tersebut.

Jika Anda penggemar sepak bola, mungkin bertanya-tanya: mengapa sosok kontroversial ini masih kokoh? Jawabannya terletak pada dukungan mayoritas yang solid dari federasi-federasi kecil, sementara kekuatan Eropa yang kritis ternyata tak cukup kuat untuk menggoyahkannya.

Berdasarkan laporan dari The Guardian, Sabtu (18/7/2026), langkah Infantino menuju masa jabatan keempat diprediksi bakal melenggang mulus pada Kongres FIFA Maret mendatang. Dari total 211 pemilik suara, hanya segelintir federasi seperti Jerman yang terpantau belum memberikan dukungan resmi, sedangkan sisanya telah menyatakan kesetiaan.

Batas akhir pendaftaran bakal calon presiden FIFA sendiri ditetapkan jatuh pada 18 November. Namun, hingga saat ini Infantino masih menjadi calon tunggal tanpa adanya rival yang muncul. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pengamat bahwa proses demokrasi di FIFA berjalan tanpa perlawanan berarti. Namun, di balik klaim dukungan mutlak ini, riak ketidakpuasan mulai muncul ke permukaan dan mengancam citra organisasi.

Tekanan Internal dan Kemarahan Eropa

Di balik klaim dukungan mutlak ini, riak ketidakpuasan mulai muncul ke permukaan. Sejumlah federasi mengaku mendapat tekanan persisten dari internal FIFA untuk segera menyatakan kesetiaan mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi suara dalam pemilihan nanti. Gelombang protes paling keras saat ini menguat di antara asosiasi sepak bola Eropa. Mereka geram setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengaku melobi FIFA demi meninjau ulang kartu merah striker AS, Folarin Balogun. Bagi banyak pihak, campur tangan kepala negara dalam urusan wasit dianggap melanggar etika olahraga.

UEFA juga secara terbuka menunjukkan sikap oposisi terhadap sejumlah kebijakan FIFA belakangan ini. Selain kasus Balogun, mereka memprotes pemblokiran wasit asal Somalia, Omar Artan, dari Piala Dunia. Keputusan ini dinilai tidak transparan dan mencederai semangat inklusivitas dalam sepak bola. Namun, protes yang dilancarkan tampaknya belum cukup untuk menghentikan laju Infantino menuju kursi kepresidenan.

Kondisi Finansial yang Membungkam Kritik

Wacana mengusung calon tandingan dari Eropa sempat mencuat dalam diskusi tertutup sepuluh hari terakhir. Namun, peluang negara-negara Eropa untuk sepakat pada satu nama dinilai sangat kecil. Perbedaan kepentingan antar federasi Eropa membuat mereka sulit bersatu di bawah satu payung kandidat. Bahkan, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sudah mengirimkan surat dukungan mereka jauh sebelum Piala Dunia dimulai. Padahal, calon alternatif diharapkan bisa memicu debat publik terkait tata kelola organisasi FIFA. Ironisnya, negara yang seharusnya menjadi pelopor reformasi justru lebih dulu menyatakan dukungan.

Infantino sendiri tidak perlu cemas karena ia tidak bergantung sepenuhnya pada suara dari benua biru. Oposisi Eropa diperkirakan hanya mampu menggalang 30 hingga 40 suara yang tidak berarti banyak. Sebaliknya, dukungan dari Afrika, Asia, dan Amerika Selatan yang berjumlah ratusan suara menjadi benteng pertahanan utamanya. Pertemuan para anggota FIFA di New York pada hari Sabtu ini pun dipastikan aman dari pembahasan skandal. Rapat yang dipimpin Infantino tersebut akan lebih fokus memaparkan keuntungan finansial Piala Dunia bagi para anggota. Strategi ini jelas dirancang untuk mengalihkan perhatian publik dari kontroversi yang sedang terjadi.

Dengan seluruh dinamika ini, kecil kemungkinan bagi Gianni Infantino untuk gagal dalam pencalonannya. Namun, skandal yang membayang dan tekanan dari Eropa menunjukkan bahwa kekuasaan absolut di FIFA tetap menuai kritik. Bagi Anda pencinta sepak bola, kondisi ini mengingatkan bahwa politik dan olahraga kerap tak terpisahkan, dan setiap keputusan di puncak organisasi selalu berdampak pada pertandingan yang kita nikmati di lapangan. Masa depan sepak bola dunia ada di tangan federasi-federasi kecil yang kini menjadi penentu utama arah organisasi tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online