SIM Keliling Gunungkidul: Ada di Taman Parkir Pasar Argosari
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling pada hari ini.
Trofi Piala Dunia - ist/FIFA
Harianjogja.com, JOGJA—Mengangkat trofi Piala Dunia adalah puncak karier setiap pemain. Namun, sejarah mencatat bahwa tidak semua legenda mendapat kesempatan itu. Dari penalti Baggio yang meleset hingga nasib buruk Di Stéfano yang tak pernah tampil, berikut 15 kisah pilu pesepak bola hebat yang harus mengakhiri karier tanpa mahkota dunia:
1. Roberto Baggio: Duka Penalti yang Abadi
Roberto Baggio menjadi simbol salah satu momen paling memilukan dalam sejarah Piala Dunia. Penyerang berjuluk The Little Buddha itu membawa Italia melaju ke final Piala Dunia 1994 setelah mencetak lima gol penting di fase gugur. Namun, impiannya pupus ketika gagal mengeksekusi penalti pada adu penalti melawan Brasil—gambarannya yang menunduk lesu di lapangan menjadi salah satu ikon kesedihan dalam olahraga. Meski demikian, Baggio tetap tercatat sebagai salah satu dari sedikit pemain yang mampu mencetak gol di tiga edisi Piala Dunia berbeda. Secara individu, ia meraih Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year pada 1993, serta mencetak lebih dari 300 gol sepanjang karier profesionalnya.
2. Johan Cruyff: Pelopor yang Gagal di Puncak
Johan Cruyff dikenal sebagai pelopor filosofi Total Football yang mengubah wajah sepak bola modern. Ia membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 dan bahkan sempat unggul lebih dulu atas Jerman Barat. Namun, Belanda akhirnya kalah 1-2 dalam laga yang dikenal sebagai salah satu final terbaik sepanjang masa. Meski gagal menjadi juara, Cruyff dinobatkan sebagai peraih Golden Ball atau pemain terbaik turnamen berkat penampilan luar biasanya. Pengaruhnya terhadap sepak bola jauh melampaui trofi yang tak pernah ia raih.
3. Luka Modric: Hampir Menciptakan Sejarah
Luka Modric hampir membawa Kroasia menciptakan sejarah pada Piala Dunia 2018. Berkat kepemimpinannya di lini tengah, Kroasia sukses melaju hingga final sebelum akhirnya takluk dari Prancis. Modric tetap pulang dengan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, dan penampilan impresifnya sepanjang 2018 juga mengantarkannya merebut Ballon d'Or, mengakhiri dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang telah berlangsung selama satu dekade. Bagi Kroasia yang baru merdeka, pencapaiannya tetap menjadi kebanggaan nasional.
4. Ferenc Puskás: Magical Magyars yang Tumbang
Ferenc Puskás memimpin tim legendaris Hungaria yang dijuluki Magical Magyars. Tim tersebut datang ke final Piala Dunia 1954 tanpa terkalahkan selama empat tahun dan menjadi favorit mutlak. Namun, mereka secara mengejutkan kalah 2-3 dari Jerman Barat dalam laga yang dikenal sebagai Miracle of Bern—salah satu kejutan terbesar dalam sejarah olahraga. Puskás tetap dikenang sebagai salah satu penyerang terbaik sepanjang masa, dengan rekor 84 gol dalam 85 penampilan internasional yang mungkin tak akan pernah terpecahkan.
5. Paolo Maldini: Bek Legendaris Tanpa Mahkota
Paolo Maldini merupakan salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama empat edisi Piala Dunia, ia menjadi tembok kokoh pertahanan Italia dan mencatat rekor 2.217 menit bermain—terbanyak sepanjang sejarah turnamen. Kesempatan terdekatnya mengangkat trofi datang pada 1994, tetapi Italia kembali kalah adu penalti dari Brasil di final. Maldini pensiun dengan lima trofi Liga Champions dan tujuh gelar Serie A, tetapi tanpa piala dunia yang sangat diidamkannya.
6. Eusébio: Black Panther yang Menggila di 1966
Eusébio tampil sensasional pada Piala Dunia 1966 dengan menjadi top skor berkat koleksi sembilan gol. Penyerang berjuluk Black Panther itu membawa Portugal hingga semifinal, termasuk mencetak empat gol saat membalikkan keadaan melawan Korea Utara di perempat final—salah satu comeback terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Meski gagal menjadi juara, performanya di turnamen tersebut masih dikenang hingga kini dan membuatnya dianggap sebagai pesepak bola terhebat Portugal sebelum munculnya Cristiano Ronaldo.
7. Oliver Kahn: Kiper yang Hampir Sempurna
Oliver Kahn nyaris membawa Jerman menjadi juara pada Piala Dunia 2002. Sang kiper hanya kebobolan satu gol hingga final dan mencatat lima clean sheet—prestasi yang hampir sempurna. Namun, kesalahan yang dilakukannya di partai puncak dimanfaatkan Ronaldo untuk membawa Brasil menjadi juara. Meski kalah, Kahn menjadi satu-satunya penjaga gawang yang pernah meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, sebuah pengakuan atas dominasinya di bawah mistar.
8. Michel Platini: Gelandang Produktif yang Terhalang Jerman
Michel Platini merupakan motor permainan Prancis pada era 1980-an. Ia membawa Les Bleus mencapai semifinal Piala Dunia 1982 dan 1986, tetapi dua kali disingkirkan oleh Jerman Barat—termasuk dalam semifinal 1982 yang dramatis setelah memenangi pertandingan klasik melawan Brasil. Platini juga dikenal sebagai salah satu gelandang paling produktif dalam sejarah dan berhasil memenangkan Ballon d'Or tiga kali secara beruntun, sebuah pencapaian yang hanya disamai oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
9. Cristiano Ronaldo: Mega Bintang Tanpa Mahkota Dunia
Cristiano Ronaldo mengoleksi hampir seluruh gelar bergengsi sepanjang kariernya. Namun, trofi Piala Dunia tak pernah berhasil diraihnya. Pencapaian terbaik Ronaldo terjadi pada Piala Dunia 2006 ketika Portugal finis di posisi keempat—kekalahan semifinal dari Prancis dan perebutan tempat ketiga dari Jerman menjadi kenangan pahit. Meski demikian, ia mencetak sejarah sebagai pemain pertama yang mampu mencetak gol di lima edisi Piala Dunia berbeda (2006, 2010, 2014, 2018, 2022), sebuah rekor yang mungkin akan bertahan lama.
10. Zico: Joga Bonito yang Terhenti
Zico menjadi ikon tim Brasil 1982 yang hingga kini dianggap sebagai salah satu tim terbaik yang gagal menjadi juara dunia. Permainannya yang atraktif, penuh skill dan kreativitas, mencerminkan filosofi Joga Bonito yang menjadi ciri khas sepak bola Brasil. Namun, langkah tim Samba terhenti setelah dikalahkan Italia dalam pertandingan klasik yang diwarnai hat-trick Paolo Rossi. Selama tiga kali tampil di Piala Dunia, Zico mencetak lima gol dan meninggalkan warisan sebagai salah satu playmaker terbaik sepanjang masa.
11. Lev Yashin: Si Laba-laba Hitam Tanpa Trofi
Lev Yashin membela Dynamo Moscow selama sekitar 20 tahun dan memperkuat Uni Soviet dari 1954 hingga 1970, serta tampil di empat edisi Piala Dunia (1958, 1962, 1966, dan 1970). Meski dikenal sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang sejarah dan menjadi satu-satunya penjaga gawang yang pernah meraih Ballon d'Or pada 1963, Yashin tidak pernah menjuarai Piala Dunia. Penyebab utamanya bukan karena performanya, melainkan karena Uni Soviet tidak memiliki skuad sekuat Brasil, Inggris, atau Jerman Barat pada masanya. Prestasi terbaiknya di Piala Dunia hanya mencapai peringkat keempat pada 1966. Selain itu, ia juga sempat mengalami cedera dan gegar otak pada Piala Dunia 1962 yang memengaruhi penampilannya. Sebagai penjaga gawang, ia tidak bisa sendirian menentukan hasil pertandingan, sehingga meski tampil gemilang dan menyelamatkan ratusan peluang sepanjang kariernya, trofi Piala Dunia tetap gagal diraihnya.
12. Alfredo Di Stéfano: Nasib Buruk di Panggung Terbesar
Alfredo Di Stéfano memiliki karier gemilang bersama River Plate, Millonarios, dan terutama Real Madrid, tempat ia memenangkan delapan gelar Liga Spanyol, lima Piala Champions Eropa beruntun, serta dua Ballon d'Or. Namun, salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah ini tidak pernah bermain di putaran final Piala Dunia. Penyebabnya adalah Argentina mundur dari Piala Dunia 1950 dan 1954, Spanyol gagal lolos pada 1958, lalu cedera membuatnya batal tampil di Piala Dunia 1962. Akibat rangkaian nasib buruk tersebut, Di Stéfano pensiun tanpa pernah merasakan panggung Piala Dunia—sebuah ironi bagi pemain yang mendominasi Eropa selama satu dekade.
13. Trio Belanda: Generasi Emas yang Gagal Bersatu
Trio Belanda yakni Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard dikenal sebagai salah satu lini terbaik dalam sejarah sepak bola. Bersama AC Milan, mereka mendominasi Eropa dengan menjuarai dua Piala Champions Eropa dan membawa Belanda menjuarai Euro 1988. Namun, mereka gagal menjadi juara Piala Dunia. Pada Piala Dunia 1990, Belanda datang sebagai favorit, tetapi tampil di bawah performa terbaik akibat konflik internal, pergantian pelatih, dan permainan yang tidak solid sehingga tersingkir di babak 16 besar oleh Jerman Barat. Kesempatan emas trio legendaris itu pun hilang, dan mereka mengakhiri karier internasional tanpa pernah mengangkat trofi Piala Dunia—sebuah pelajaran tentang betapa pentingnya keharmonisan tim di turnamen besar.
14. George Best: Bakat Terbesar yang Terkendala Negara
George Best dikenal sebagai salah satu pemain paling berbakat dalam sejarah sepak bola. Bersama Manchester United, ia memenangkan Piala Champions Eropa 1968, dua gelar Liga Inggris, dan Ballon d'Or pada tahun yang sama. Namun, Best tidak pernah tampil, apalagi menjuarai Piala Dunia, karena membela Irlandia Utara yang tidak cukup kuat untuk lolos ke putaran final selama masa kariernya. Meski tampil impresif di level klub, kesempatan bermain di panggung terbesar sepak bola dunia tidak pernah datang akibat keterbatasan kualitas tim nasionalnya—sebuah ironi pahit bagi salah satu pemain paling berbakat yang pernah ada.
15. George Weah: Bintang Afrika yang Tak Terlihat di Piala Dunia
George Weah adalah salah satu penyerang terbaik dalam sejarah sepak bola Afrika dan satu-satunya pemain asal benua hitam yang meraih Ballon d'Or pada 1995. Namun, ia gagal menjuarai Piala Dunia karena Liberia tidak pernah berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Meskipun ia sempat membiayai tim nasionalnya sendiri untuk bertanding, mimpi tampil di panggung terbesar tidak pernah terwujud. Weah tetap menjadi ikon kebanggaan Afrika dan kemudian sukses menjadi Presiden Liberia, membuktikan bahwa pengaruh seorang legenda tidak selalu diukur dari trofi yang diraih.
Bukan Juara, tetapi Tetap Abadi
Piala Dunia memang menjadi ukuran tertinggi dalam sepak bola. Namun, daftar panjang nama-nama di atas menunjukkan bahwa status legenda tidak selalu ditentukan oleh trofi. Lewat kontribusi, kualitas permainan, hingga pengaruhnya terhadap perkembangan sepak bola dunia, nama-nama seperti Cruyff, Modric, Baggio, dan Maldini tetap dikenang sebagai ikon yang meninggalkan warisan besar. Bagi Anda para pencinta sepak bola, kisah mereka mengajarkan bahwa kegagalan di satu ajang tidak mengurangi kehebatan seseorang—justru sering kali menjadi bagian dari narasi yang membuat mereka semakin manusiawi dan dekat di hati penggemar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling pada hari ini.
Argentina akan mengenakan jersey biru-putih yang identik dengan tiga gelar juara dunia saat menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2026. FIFA juga memastikan
Startup AI China Moonshot AI bersiap meluncurkan Kimi K3, model AI terbesar yang pernah dikembangkan di China. Kehadirannya disebut dapat mempersempit jarak tek
Mees Hilgers terancam didepak FC Twente. Pelatih van den Brom sebut tidak ada jalan kembali untuk bek Timnas Indonesia ini. Simak drama transfernya!
Cara mudah blokir dan buka blokir akun TikTok lewat profil atau komentar. Lindungi kenyamanan digital Anda hanya dalam beberapa langkah sederhana!
Chelsea Islan lahirkan anak pertama, Baby Clea, pada 8 Juli 2026. Aktris 31 tahun ini ungkap rasa syukur dan haru atas kelahiran putrinya.