Di Balik Gelar Dunia Yamal Ada Kisah Nenek Naik Bus Diam-Diam

Jumali
Jumali Senin, 20 Juli 2026 14:17 WIB
Di Balik Gelar Dunia Yamal Ada Kisah Nenek Naik Bus Diam-Diam

Pemain timnas Spanyol, Lamine Yamal./X-SEFutbol\r\n\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Keberhasilan Lamine Yamal membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 menjadi puncak perjalanan luar biasa seorang anak dari keluarga imigran. Di balik trofi yang diangkat pemain berusia 19 tahun tersebut, terdapat kisah panjang tentang pengorbanan keluarga yang dimulai jauh sebelum namanya dikenal sebagai bintang sepak bola dunia.

Kesuksesan Yamal di panggung terbesar sepak bola dunia sekaligus menjadi jawaban atas perjuangan keluarganya yang selama bertahun-tahun berusaha membangun kehidupan baru di Spanyol. Dari kehidupan sederhana hingga menjadi simbol harapan bagi banyak keluarga imigran, perjalanan Yamal kini menginspirasi jutaan orang di berbagai negara.

Pemain yang lahir pada 13 Juli 2007 di dekat Barcelona itu merupakan putra dari Sheila Ebana, perempuan asal Guinea Ekuatorial, dan Mounir Nasraoui, pria keturunan Maroko.

Namun perjalanan keluarga tersebut menuju Spanyol tidaklah mudah.

Dalam sebuah podcast berjudul Resonancia de Corazón, Yamal mengungkap bahwa kisah keluarganya bermula dari keberanian sang nenek yang meninggalkan Maroko demi mencari kehidupan yang lebih baik.

"Yang pertama tiba adalah nenek saya, yang menyelinap naik bus dari Maroko dan berhasil sampai ke Mataro," kenang Lamine.

Menurut Yamal, neneknya kemudian bekerja tanpa kenal lelah demi membantu anggota keluarga lain menyusul ke Spanyol.

"Dia mulai bekerja tiga shift agar ayah saya bisa datang. Ketika nenek saya bekerja dan mendapatkan uang, dia membayar seorang wanita untuk membawa ayah dan saudara perempuannya yang saat itu masih berusia tiga tahun."

Perjuangan itu menjadi fondasi yang kemudian memungkinkan keluarganya membangun kehidupan baru di wilayah Catalonia. Bertahun-tahun kemudian, ayah dan ibunya bertemu saat masih berusia remaja di Barcelona.

Meski hubungan keduanya tidak bertahan lama dan berakhir ketika Yamal masih berusia tiga tahun, keduanya tetap memainkan peran penting dalam kehidupan sang pemain.

Setelah kedua orang tuanya berpisah, Yamal tumbuh bersama ibunya di Granollers, wilayah di timur laut Barcelona.

Di masa kecilnya, kehidupan keluarga mereka jauh dari kemewahan. Sheila bekerja di sebuah restoran cepat saji untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membesarkan Yamal dan adik tirinya, Keyne.

Pengalaman hidup dalam keterbatasan masih membekas kuat dalam ingatan pemain muda tersebut.

"Bagi saya, ibu adalah ratu dan orang yang paling saya sayangi. Saya pernah tinggal di apartemen kecil di mana dapur dan kamar tidur berada di ruangan yang sama."

Bagi Yamal, kebahagiaan terbesar saat ini bukanlah ketenaran ataupun trofi yang berhasil diraih.

"Sekarang, melihat ibu saya bahagia dan adik saya bisa memiliki masa kecil yang saya impikan, itulah yang membuat saya paling bahagia."

Hubungan keluarga yang erat juga terlihat dari kedekatannya dengan sang adik tiri, Keyne, yang beberapa kali menjadi perhatian publik saat mendukung kakaknya dari tribun stadion.

Yamal bahkan menggambarkan ikatan tersebut dengan sangat emosional.

"Saya terharu melihat adik, ibu, dan teman-teman saya menjalani kehidupan yang selalu mereka impikan. Adik laki-laki saya berarti segalanya bagi saya. Rasanya seperti dia anak saya sendiri."

Sementara itu, meski telah berpisah, Sheila dan Mounir tetap menjaga hubungan baik demi mendukung perkembangan karier putra mereka.

Dukungan keluarga tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Yamal menembus akademi sepak bola La Masia milik Barcelona pada usia 12 tahun.

Perkembangannya berlangsung sangat cepat.

Hanya dalam waktu sekitar tiga tahun, ia sudah menjalani debut profesional dan mulai menarik perhatian publik sepak bola Eropa.

Kini, setelah membawa Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026 dan masuk dalam jajaran pemain termuda yang tampil di final turnamen tersebut, Yamal tidak hanya dikenal sebagai bintang sepak bola. Ia juga menjadi simbol bahwa kerja keras, dukungan keluarga, dan keberanian menghadapi keterbatasan dapat mengubah masa depan seseorang.

Bagi banyak anak dari keluarga imigran maupun keluarga sederhana di berbagai belahan dunia, kisah Yamal menjadi bukti bahwa mimpi besar tetap dapat diraih meski perjalanan menuju puncak dimulai dari kehidupan yang penuh tantangan dan pengorbanan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online