Ducati Ungkap Gaya Marquez Tak Bisa Ditiru Bagnaia

Jumali
Jumali Sabtu, 22 Agustus 2026 11:17 WIB
Ducati Ungkap Gaya Marquez Tak Bisa Ditiru Bagnaia

Pebalap Motogp Marc Marquez (kiri). /Instagram.

Harianjogja.com, JOGJA— Ducati memiliki keunggulan besar dalam membaca performa pembalap melalui data. Namun, General Manager Ducati Corse, Gigi Dall'Igna, menegaskan bahwa data tidak bisa membuat seorang pembalap begitu saja meniru gaya rider lain di MotoGP.

Menurut Dall'Igna, setiap pembalap memiliki karakter dan cara mengendarai motor yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi salah satu faktor penting yang membuat performa pembalap tidak dapat disamakan meski mereka menggunakan motor dari pabrikan yang sama.

"Setiap pembalap memiliki gaya yang berbeda," kata Dall'Igna kepada MCNews.com.au. "Bahkan jika mereka mencoba meniru satu sama lain, itu tidak mungkin."

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dan data memang berperan besar dalam MotoGP, tetapi kemampuan pembalap tetap menjadi faktor yang tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan melalui angka.

Gaya Marquez dan Bagnaia Berbeda

Dall'Igna memberikan contoh dari dua pembalap Ducati, Marc Marquez dan Francesco Bagnaia. Keduanya memiliki karakteristik berbeda ketika mengendarai motor di lintasan.

"Sebagai contoh, gaya balap Marc di tikungan kiri tidak mungkin ditiru. Kadang-kadang, mustahil meniru Pecco saat melakukan pengereman. Ada fase-fase berbeda dalam balapan di mana pembalap tertentu tampil jauh lebih baik dibandingkan yang lain," tuturnya.

Marc Marquez dikenal memiliki kemampuan istimewa ketika melewati tikungan kiri. Karakteristik tersebut menjadi salah satu ciri khas gaya balapnya yang telah terlihat sejak membela Repsol Honda hingga berlanjut bersama Ducati.

Sementara itu, Bagnaia memiliki keunggulan dalam pengereman. Kemampuannya mengendalikan motor ketika memasuki tikungan membuat pembalap asal Italia tersebut memiliki karakter berbeda dibandingkan Marquez.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa data dari motor yang sama tidak otomatis membuat dua pembalap menghasilkan cara berkendara yang identik.

Pengalaman, intuisi, kemampuan membaca kondisi lintasan, hingga cara masing-masing pembalap beradaptasi dengan motor ikut menentukan gaya riding mereka.

Di Giannantonio Punya Keunggulan di Tikungan

Dall'Igna juga menyoroti Fabio Di Giannantonio sebagai pembalap yang memiliki kelebihan tersendiri. Rider VR46 tersebut dinilai mampu mempertahankan kecepatan dengan sangat baik ketika berada di tikungan.

"Dia adalah salah satu yang terbaik," ujar Dall'Igna.

Keunggulan Di Giannantonio menjadi contoh lain bahwa para pembalap Ducati tidak harus memiliki karakter berkendara yang sama untuk bisa tampil kompetitif.

Setiap rider justru dapat memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk mendapatkan performa terbaik dari motor yang dikendarainya.

Data Ducati Tidak Bisa Menggantikan Faktor Pembalap

Ducati memang dikenal memiliki banyak data karena menurunkan sejumlah motor di grid MotoGP. Informasi dari para pembalap dapat digunakan untuk memahami perilaku motor, mencari kelemahan, sekaligus mengembangkan strategi dan setelan.

Namun, menurut Dall'Igna, data tersebut tetap berfungsi sebagai alat bantu. Informasi yang diperoleh dari satu pembalap tidak serta-merta dapat diterapkan secara identik kepada pembalap lainnya.

Hal itu karena kemampuan yang menjadi keunggulan seorang rider bisa saja justru sulit dilakukan oleh rider lain.

Dalam persaingan MotoGP, pembalap harus mampu mengolah informasi teknis sekaligus menyesuaikannya dengan karakter pribadi. Di titik inilah kemampuan individu tetap menjadi pembeda.

Bagi Ducati, keberadaan beberapa pembalap dengan gaya berbeda justru dapat memberikan keuntungan. Tim memiliki lebih banyak sudut pandang untuk memahami karakter motor di berbagai kondisi lintasan.

Dengan demikian, dominasi teknologi tidak berarti menghilangkan peran manusia. Data memberikan informasi, sedangkan pembalap tetap menentukan bagaimana informasi tersebut diterapkan di atas motor.

Keunikan Rider Jadi Pembeda di MotoGP

Pernyataan Dall'Igna juga menggambarkan bagaimana persaingan MotoGP tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki motor paling kompetitif.

Marquez dengan karakter kuatnya di tikungan kiri, Bagnaia dengan kemampuan pengereman, dan Di Giannantonio dengan kecepatannya saat menikung menjadi contoh bahwa setiap pembalap memiliki senjata masing-masing.

Keunikan tersebut tidak bisa begitu saja dipindahkan dari satu rider ke rider lainnya. Bahkan ketika menggunakan data yang sama, hasil akhirnya dapat berbeda karena respons setiap pembalap terhadap motor dan lintasan tidak identik.

Kombinasi antara teknologi, data, pengalaman, dan kemampuan individu akhirnya menjadi faktor yang menentukan performa di lintasan. Hal inilah yang membuat persaingan antarpembalap MotoGP tetap sulit diprediksi meski perkembangan teknologi semakin maju.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online