Lewis Hamilton Soroti Palestina dan Kongo di Tengah Kembalinya F1 ke Afrika

Jumali
Jumali Jum'at, 23 Oktober 2026 12:47 WIB
Lewis Hamilton Soroti Palestina dan Kongo di Tengah Kembalinya F1 ke Afrika

Lewis Hamilton./Instagram

Harianjogja.com, JOGJA— Pembalap Ferrari Lewis Hamilton menyerukan agar perhatian dunia terhadap Afrika juga diikuti kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan di berbagai wilayah, termasuk Kongo, Sudan, Suriah, dan Palestina. Pernyataan itu disampaikan setelah Formula 1 (F1) mengumumkan rencana kembali menggelar balapan di Afrika melalui kesepakatan jangka panjang dengan Rwanda.

Dalam konferensi pers di Austin, Amerika Serikat, Hamilton menilai masyarakat dunia perlu memahami sejarah dan persoalan yang dihadapi negara-negara Afrika. Juara dunia F1 tujuh kali itu juga berharap benua tersebut dapat bersatu dan mencapai perdamaian yang lebih luas.

“Saya sungguh berharap—dan saya masih menaruh harapan—bahwa Afrika bisa bersatu,” ujar Hamilton, seperti dikutip dari Crash.net.

Ia kemudian menyampaikan harapannya agar masyarakat dunia terus mendorong perdamaian. “Kita perlu terus berupaya untuk membebaskan Kongo, Sudan, Suriah, dan Palestina. Saya berharap suatu saat nanti kita bisa mencapai kedamaian yang sesungguhnya,” katanya.

F1 Kembali ke Afrika Setelah Lebih dari Tiga Dekade

Formula 1 pada 13 Oktober 2026 mengumumkan kesepakatan 10 tahun untuk menggelar Grand Prix di Rwanda. Balapan tersebut direncanakan berlangsung pada awal dekade 2030-an setelah pembangunan sirkuit baru di Bugesera, dekat Kigali, selesai.

Kembalinya F1 ke Afrika menjadi momen penting karena benua itu terakhir kali menjadi tuan rumah balapan pada 1993 di Afrika Selatan. F1 menyatakan kesepakatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas jangkauan olahraga sekaligus mendorong dampak ekonomi dan sosial melalui pariwisata, investasi, serta pengembangan talenta lokal.

Namun, rencana itu juga memicu perdebatan mengenai hak asasi manusia. Amnesty International mengkritik kesepakatan tersebut dan menilai kemitraan olahraga berprofil tinggi berisiko dimanfaatkan untuk memperbaiki citra pemerintah Rwanda di tengah tuduhan pelanggaran HAM.

Human Rights Watch juga mengingatkan adanya risiko terkait kebebasan pers, penindasan terhadap pihak yang mengkritik pemerintah, dan persoalan HAM di kawasan tersebut. Kritik itu merupakan pandangan organisasi HAM, sementara F1 mempromosikan penyelenggaraan balapan sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Hamilton Minta Sejarah Afrika Dipahami

Hamilton mengakui dirinya tidak memiliki pemahaman memadai mengenai Afrika ketika tumbuh besar di Inggris. Menurut dia, sejarah kolonialisme dan intervensi negara-negara Barat perlu mendapat perhatian lebih dalam pendidikan.

Pembalap asal Inggris itu menilai pemahaman sejarah dapat membantu masyarakat melihat persoalan yang dihadapi negara-negara Afrika secara lebih utuh. Ia juga menyoroti kekayaan sumber daya, budaya, dan karya desain yang berkembang di benua tersebut.

Hamilton berharap penyelenggaraan balapan internasional dapat memperluas perhatian publik terhadap Afrika. Namun, ia menegaskan bahwa kehadiran ajang olahraga di suatu negara tidak seharusnya membuat persoalan yang terjadi di negara tersebut diabaikan.

Menurut Hamilton, orang-orang perlu terus mempelajari kondisi serta sejarah negara-negara yang menjadi tuan rumah acara olahraga besar. Dengan begitu, perhatian yang muncul dari ajang internasional dapat berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai persoalan masyarakat.

Kontroversi Rwanda dan Persoalan Kongo

Rencana Grand Prix di Rwanda juga mendapat sorotan karena hubungan negara tersebut dengan konflik di Republik Demokratik Kongo. Pemerintah Kongo sebelumnya menempuh jalur hukum terhadap Rwanda dengan tuduhan pelanggaran sejumlah perjanjian internasional.

Selain itu, organisasi HAM menuduh Rwanda mendukung kelompok bersenjata M23 di Kongo timur. Tuduhan mengenai keterlibatan Rwanda dalam konflik tersebut menjadi bagian dari perdebatan seputar risiko HAM yang muncul setelah kesepakatan F1 diumumkan.

Dalam konteks ini, seruan Hamilton agar dunia mendorong perdamaian di Kongo, Sudan, Suriah, dan Palestina memperluas pembicaraan melampaui agenda olahraga. Ia berharap perhatian global terhadap F1 di Afrika juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami persoalan sejarah, kemanusiaan, dan konflik yang masih berlangsung di berbagai wilayah.

Kembalinya F1 ke Afrika pada awal 2030-an memang menjadi perkembangan penting bagi olahraga tersebut. Namun, pernyataan Hamilton mengingatkan bahwa perayaan atas sebuah ajang olahraga dapat berjalan bersamaan dengan kepedulian terhadap kondisi masyarakat dan persoalan kemanusiaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online