Tembok Roboh Saat Bongkar Rumah di Godean, 1 Buruh Tewas
Tembok setinggi 3 meter ambruk saat pembongkaran rumah di Godean, Sleman. Satu buruh bangunan tewas dan satu pekerja mengalami luka.
Potret Gelandang PSS Sleman, Wahyudi Hamisi. /Istimewa-PSS Sleman.
Harianjogja.com, SLEMAN—Insiden keributan akibat dugaan gelandang PSS Sleman Wahyudi Hamisi menendang kepala Pemain Persebaya Bruno Moreira menjadi perbincangan publik. Video insiden tersebut bahkan menjadi viral di medsos. Laga PSS Sleman kontra Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo pada Minggu (3/3/2024).
Wahyudi Hamisi pun ikut bersuara terkait insiden ini. Pertama, dirinya menyampaikan permintaan maaf kepada Bruno dan Tim Persebaya. "Saya Wahyudi Hamisi, pemain PSS Sleman ingin menyampaikan permintaan maaf saya kepada pemain Persebaya, Bruno Moreira atas apa yang terjadi di pertandingan kemarin. Saya sudah berpesan kepada Bruno untuk permintaan maaf saya," ucapnya, Senin (4/3/2024) malam.
BACA JUGA : Komentari Aksi Brutal Hamisi, Sekjen PSSI: Harus Ada Evaluasi dan Sanksi Berat
Sebagai aktor yang terlibat langsung dalam laga, Hamisi mengungkapkan sama sekali tidak ada maksud dari dirinya untuk mencederai atau bahkan melukai Bruno. "Dari kronologi tadi, tentu tidak ada unsur kesengajaan dari saya untuk mencederai atau bahkan melukai Bruno. Sebagai sesama pesepakbola, tentu saya tidak ingin melukai lawan saya dengan sengaja," ujarnya.
Kendati demikian Hamisi tetap meminta maaf karena aksinya membahayakan bagi Bruno. "Apapun itu, saya tahu hal tersebut salah dan dapat membahayakan Bruno sebagai pemain. Maka dari itu saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bruno dan tim Persebaya atas tindakan yang saya lakukan," pungkasnya.
Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Gusti Randa pun angkat suara. Gusti menilai harus memberi pernyataan sikap terlebih banyaknya potongan video yang beredar ikhwal insiden tersebut.
"Kami dari PSS Sleman ingin menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi atas peristiwa kemarin. Saya sebelumnya sangat menyayangkan atas banyaknya potongan video yang beredar saat kejadian tersebut dengan tidak menayangkan video lengkap sebelum kejadian," kata Gusti.
Dalam video lengkap terlihat bahwa Bruno sudah terjatuh lebih dulu akibat saat berebut bola dengan pemain PSS. Namun, wasit kala itu tak menghentikan perminan yang membuat permainan tetap dilanjutkan. Bahkan Persebaya sempat menyerang dan melesatkan tendangan gawang PSS. Bola sepakan pemain Persebaya tersebut masih berhasil ditepis oles Kiper PSS, Anthony Pinthus. Setelahnya bola terpisah Pinthus kembali jatuh di kaki pemain Persebaya.
Gusti menilai pemain Persebaya seharusnya membuang bola lantaran ada rekannya yang terjatuh kesakitan dan bukan justru terus membawa bola. "Terlihat jelas dalam video pemain Persebaya terus membawa bola dan mengarahkannya ke dekat Bruno," ungkapnya.
Karena bola masih terus aktif dan pertandingan terus berjalan, Hamisi berusaha mengambil bola itu. "Tindakan Hamisi untuk mengambil bola menurut saya harus dilakukan karena untuk menutup gerak lawan. Mengingat kami kebobolan pertama karena lengah menutup gerak lawan," katanya.
BACA JUGA : Hadapi Persebaya, PSS Evaluasi Tim Besar-besaran
Sayang, upaya Hamisi meraih bola justru mengenai kepala Bruno yang masih tersungkur. Bruno pun bangkit sesaat setelah kejadian itu. "Tendangan Hamisi ternyata menyentuh kepala Bruno. Saat itu, Bruno langsung bangkit dan malah ingin memukul Hamisi. Menurut saya, apa yang dibuat oleh Tim Persebaya terlalu berlebihan karena buktinya Bruno bisa langsung bangkit dan bermain hingga menit akhir," katanya.
Meski menilai tindakan Hamisi semata-mata merupakan upaya untuk mengambil bola, Gusti tetap mengungkapkan permintaan maafnya kepada Tim Persebaya. Permintaan maaf atas tindakan yang dilakukan oleh salah satu pemainnya. Dia tidak ingin kejadian semacam ini kembali berulang.
"Saya sebagai perwakilan Manajemen PT PSS ingin meminta maaf kepada Tim Persebaya atas kejadian kemarin. Tentu kita tidak ingin ada kejadian tersebut lagi terjadi di Sepak Bola Indonesia karena bisa membahayakan pemain satu sama lain. Semoga ini menjadi yang terakhir untuk Sepak Bola Indonesia," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tembok setinggi 3 meter ambruk saat pembongkaran rumah di Godean, Sleman. Satu buruh bangunan tewas dan satu pekerja mengalami luka.
KPK menyatakan laporan gratifikasi Menhut Raja Juli Antoni selesai pada aspek pencegahan, namun dugaan suap masih didalami dalam penyidikan.
Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan layanan digital pemerintah wajib ramah disabilitas agar seluruh warga mendapat akses informasi publik.
Pertamina mencatat konsumsi Pertalite dan Biosolar naik setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sementara penjualan Pertamax Series turun 18%.
Menhut Raja Juli Antoni mendorong perdagangan karbon sebagai sumber investasi swasta untuk penanaman dan restorasi hutan.
Sebanyak 60 siswa asal Temanggung akan mengikuti Sekolah Rakyat di Wonosobo karena gedung permanen di Temanggung belum selesai dibangun.