Ketika Dominasi Bola Tak Lagi Jamin Kemenangan di Piala Dunia

Jumali
Jumali Selasa, 30 Juni 2026 16:07 WIB
Ketika Dominasi Bola Tak Lagi Jamin Kemenangan di Piala Dunia

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA


Harianjogja.com, JOGJA—Kejutan besar mengguncang panggung Piala Dunia 2026. Dua raksasa sepak bola Eropa, Jerman dan Belanda, harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat seusai takluk dalam drama adu penalti di babak 32 besar, Selasa (30/6/2026) WIB.

Hasil ini menjadi sorotan tajam karena keduanya dikenal sebagai tim yang mengandalkan dominasi penguasaan bola sebagai kunci kemenangan. Namun, status unggulan ternyata tidak lagi menjadi jaminan di turnamen tahun ini.

Jerman, sang juara dunia empat kali, dipaksa menyerah 3-4 dalam adu penalti oleh Paraguay seusai bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Tak berselang lama, Belanda menyusul dengan kekalahan 2-3 dari Maroko, juga lewat adu penalti dengan skor serupa 1-1 selama 120 menit.

Penguasaan Bola yang Sia-sia

Kegagalan kedua tim menegaskan bahwa dominasi bola tidak selalu berujung manis. Jerman tampil sangat dominan saat menghadapi Paraguay, namun mereka kesulitan menembus pertahanan lawan yang disiplin. Bahkan, gol Jonathan Tah pada babak tambahan dianulir oleh VAR akibat pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill.

Nasib tak jauh berbeda dialami Belanda. Sempat unggul melalui gol Cody Gakpo menit ke-72, kemenangan mereka buyar di masa injury time seusai Issa Diop menyamakan kedudukan, memaksa laga berlanjut ke adu penalti.

Pahlawan di Bawah Mistar
Penampilan penjaga gawang menjadi penentu krusial dalam drama ini. Kiper Paraguay, Orlando Gill, tampil gemilang dengan menepis dua tendangan penalti Jerman, sebelum José Canale memastikan kemenangan.

Di laga lain, Yassine Bounou dari Maroko membuktikan reputasinya sebagai spesialis penalti. Ia sukses membendung eksekusi Crysencio Summerville, yang kemudian disusul oleh gol penentu dari Ismael Saibari.

Efektivitas menjadi pembeda utama. Meskipun menguasai pertandingan, Jerman dan Belanda gagal mengonversi dominasi menjadi gol tambahan. Jerman gagal dalam tiga dari enam penalti, sementara Belanda kehilangan momentum di saat kritis.

Mentalitas Tim Non-Unggulan
Paraguay dan Maroko menunjukkan organisasi permainan yang luar biasa. Mereka memanfaatkan setiap peluang dengan efisien dan menunjukkan ketenangan mental superior di momen adu penalti.

Fenomena ini membuktikan bahwa tim non-unggulan kini mampu bersaing sejajar dengan tim elite lewat strategi matang dan mentalitas kuat. Paraguay selanjutnya akan menantang pemenang antara Prancis melawan Swedia, sementara Maroko akan berjumpa Kanada di babak 16 besar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online