Pemerintah Siapkan Skema Baru Penyaluran Bansos Lewat Kopdes
Pemerintah menyiapkan uji coba penyaluran bansos melalui 900 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Skema ini diharapkan memudahkan akses penerima manfaat di desa
FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana FIFA membentuk perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) memicu kontroversi di kalangan pemangku kepentingan sepak bola dunia. Setelah mendapat sorotan dari UEFA, kini Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) turut menyampaikan kritik terbuka terhadap proses penyusunan proposal tersebut.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Rabu (29/7/2026), Concacaf mengaku tidak menerima informasi awal mengenai rencana pembentukan FFE melalui jalur resmi FIFA. Organisasi itu justru mengetahui keberadaan proposal tersebut dari pemberitaan media sebelum akhirnya memperoleh penjelasan resmi dari FIFA.
Menurut Concacaf, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai proses pengambilan keputusan yang dianggap belum memenuhi prinsip tata kelola organisasi yang baik.
Konfederasi yang menaungi negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kosta Rika, Jamaika, dan Honduras itu menilai proposal dengan dampak jangka panjang terhadap industri sepak bola global semestinya dibahas lebih dahulu bersama para pemangku kepentingan.
"Setiap keputusan yang kita buat harus dipandu oleh tata kelola yang baik, proses yang kuat, dan pengelolaan jangka panjang," demikian pernyataan Concacaf.
Kritik tersebut menambah tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang sebelumnya juga menghadapi keberatan serupa dari UEFA. Dengan bergabungnya Concacaf, dua konfederasi besar kini secara terbuka mempertanyakan proses pembahasan proposal FFE.
Secara keseluruhan, UEFA dan Concacaf mewakili 143 dari total 211 asosiasi anggota FIFA, sehingga pandangan kedua organisasi tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan federasi sepak bola dunia itu.
FFE sendiri dirancang sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan FIFA. Melalui entitas baru tersebut, FIFA berencana mengonsolidasikan berbagai aset komersial yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan organisasi.
Hak siar pertandingan, kontrak sponsor, lisensi produk, penjualan tiket, hingga layanan keramahtamahan turnamen FIFA disebut akan berada di bawah pengelolaan perusahaan tersebut.
Berdasarkan proposal yang beredar, FIFA juga membuka peluang masuknya investor jangka panjang melalui penjualan saham minoritas hingga 20 persen. Langkah itu disebut bertujuan menghimpun dana miliaran dolar AS untuk memperkuat program pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Dana yang diperoleh nantinya direncanakan digunakan untuk mendukung pembangunan stadion, pusat pelatihan nasional, pengembangan sepak bola usia muda, hingga program akar rumput di berbagai kawasan dunia.
Meski menawarkan potensi pendanaan yang besar, sejumlah pihak menilai isu utama bukan semata soal keuntungan finansial. Transparansi proses, keterlibatan anggota, serta mekanisme pengawasan menjadi aspek yang paling banyak disorot.
UEFA sebelumnya menyatakan adanya penolakan yang terus berkembang terhadap cara FIFA memperkenalkan proposal tersebut. Organisasi sepak bola Eropa itu juga mempertanyakan mekanisme dukungan yang disebut memiliki batas waktu tertentu bagi asosiasi anggota.
Kritik dari dua konfederasi besar ini menjadi tantangan tersendiri bagi FIFA. Terlebih Concacaf menaungi tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang memiliki posisi strategis dalam ekosistem sepak bola global.
Menanggapi kritik tersebut, FIFA menyatakan proses konsultasi baru dimulai pada Selasa (28/7/2026). Organisasi itu menegaskan pembahasan proposal FFE akan dilakukan bersama seluruh 211 asosiasi anggota serta Dewan FIFA sebelum keputusan akhir diambil.
FIFA juga menyebut rencana pembentukan FFE tidak dapat dijalankan secara sepihak. Proposal tersebut harus memperoleh dukungan mayoritas anggota dan mendapatkan persetujuan resmi dari Dewan FIFA.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai FIFA Forward Enterprise masih akan berlangsung panjang. Selain menyangkut potensi pendapatan baru bagi FIFA, proposal tersebut juga membuka perdebatan mengenai tata kelola, transparansi, dan keseimbangan kekuasaan dalam organisasi sepak bola terbesar di dunia itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah menyiapkan uji coba penyaluran bansos melalui 900 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Skema ini diharapkan memudahkan akses penerima manfaat di desa
Sebanyak 30 hektare sawah di Palihan, Sindutan, dan Jangkaran, Temon, Kulonprogo, bertahun-tahun tak mendapat aliran irigasi Kalibawang. Petani mengandalkan sum
AS resmi larang impor robot humanoid & robot kaki empat buatan asing. FCC nilai robot ancaman keamanan nasional. China mengecam kebijakan ini!
Polresta Jogja memecah berkas 19 tersangka kasus Little Aresha Daycare menjadi dua kelompok berdasarkan dugaan peran. Jumlah korban kini mencapai 157 anak.
CEO Grammy Harvey Mason Jr. tanggapi keputusan BTS mundur dari Grammy 2027. Ia sedih tapi hormati, dan klarifikasi tujuan kategori Best Asian Pop.
KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus OTT Pemalang, termasuk Bupati Pemalang Anom Widiyantoro dan seorang staf administrasi KPK. Penyidikan dilakukan dalam