Franco Morbidelli Kena Long Lap Penalty di MotoGP San Marino
Franco Morbidelli mendapat long lap penalty di MotoGP San Marino setelah dinilai mengganggu Enea Bastianini di Tikungan 13.
FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana FIFA membentuk perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) memicu kontroversi di kalangan pemangku kepentingan sepak bola dunia. Setelah mendapat sorotan dari UEFA, kini Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) turut menyampaikan kritik terbuka terhadap proses penyusunan proposal tersebut.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Rabu (29/7/2026), Concacaf mengaku tidak menerima informasi awal mengenai rencana pembentukan FFE melalui jalur resmi FIFA. Organisasi itu justru mengetahui keberadaan proposal tersebut dari pemberitaan media sebelum akhirnya memperoleh penjelasan resmi dari FIFA.
Menurut Concacaf, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai proses pengambilan keputusan yang dianggap belum memenuhi prinsip tata kelola organisasi yang baik.
Konfederasi yang menaungi negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kosta Rika, Jamaika, dan Honduras itu menilai proposal dengan dampak jangka panjang terhadap industri sepak bola global semestinya dibahas lebih dahulu bersama para pemangku kepentingan.
"Setiap keputusan yang kita buat harus dipandu oleh tata kelola yang baik, proses yang kuat, dan pengelolaan jangka panjang," demikian pernyataan Concacaf.
Kritik tersebut menambah tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang sebelumnya juga menghadapi keberatan serupa dari UEFA. Dengan bergabungnya Concacaf, dua konfederasi besar kini secara terbuka mempertanyakan proses pembahasan proposal FFE.
Secara keseluruhan, UEFA dan Concacaf mewakili 143 dari total 211 asosiasi anggota FIFA, sehingga pandangan kedua organisasi tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan federasi sepak bola dunia itu.
FFE sendiri dirancang sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan FIFA. Melalui entitas baru tersebut, FIFA berencana mengonsolidasikan berbagai aset komersial yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan organisasi.
Hak siar pertandingan, kontrak sponsor, lisensi produk, penjualan tiket, hingga layanan keramahtamahan turnamen FIFA disebut akan berada di bawah pengelolaan perusahaan tersebut.
Berdasarkan proposal yang beredar, FIFA juga membuka peluang masuknya investor jangka panjang melalui penjualan saham minoritas hingga 20 persen. Langkah itu disebut bertujuan menghimpun dana miliaran dolar AS untuk memperkuat program pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Dana yang diperoleh nantinya direncanakan digunakan untuk mendukung pembangunan stadion, pusat pelatihan nasional, pengembangan sepak bola usia muda, hingga program akar rumput di berbagai kawasan dunia.
Meski menawarkan potensi pendanaan yang besar, sejumlah pihak menilai isu utama bukan semata soal keuntungan finansial. Transparansi proses, keterlibatan anggota, serta mekanisme pengawasan menjadi aspek yang paling banyak disorot.
UEFA sebelumnya menyatakan adanya penolakan yang terus berkembang terhadap cara FIFA memperkenalkan proposal tersebut. Organisasi sepak bola Eropa itu juga mempertanyakan mekanisme dukungan yang disebut memiliki batas waktu tertentu bagi asosiasi anggota.
Kritik dari dua konfederasi besar ini menjadi tantangan tersendiri bagi FIFA. Terlebih Concacaf menaungi tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang memiliki posisi strategis dalam ekosistem sepak bola global.
Menanggapi kritik tersebut, FIFA menyatakan proses konsultasi baru dimulai pada Selasa (28/7/2026). Organisasi itu menegaskan pembahasan proposal FFE akan dilakukan bersama seluruh 211 asosiasi anggota serta Dewan FIFA sebelum keputusan akhir diambil.
FIFA juga menyebut rencana pembentukan FFE tidak dapat dijalankan secara sepihak. Proposal tersebut harus memperoleh dukungan mayoritas anggota dan mendapatkan persetujuan resmi dari Dewan FIFA.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai FIFA Forward Enterprise masih akan berlangsung panjang. Selain menyangkut potensi pendapatan baru bagi FIFA, proposal tersebut juga membuka perdebatan mengenai tata kelola, transparansi, dan keseimbangan kekuasaan dalam organisasi sepak bola terbesar di dunia itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Franco Morbidelli mendapat long lap penalty di MotoGP San Marino setelah dinilai mengganggu Enea Bastianini di Tikungan 13.
Debit Sungai Tinalah Kulonprogo surut saat kemarau. Kondisi ini membuat wisata keceh diminati, tetapi wisatawan diminta tetap waspada.
Kejagung mengungkap Ferry Boboho mengembalikan Rp5 miliar pada Agustus 2026. Uang itu bagian dari Rp40 miliar Tan Kian.
DKP DIY menggelar Gita Laut 2026 di Pantai Congot untuk menjaga sumber daya pesisir dan melibatkan generasi muda dalam sektor kelautan.
Warga Wirobrajan didorong mengolah sampah plastik menjadi kerajinan bernilai ekonomi. Bank Sampah Wira Peni kini memiliki 90 anggota.
Tiga ASN Jayawijaya tewas ditembak KKB. Jusuf Kalla mendorong operasi aparat diiringi pendekatan persuasif dan damai.