Dari Xavi ke Yamal, Transformasi Spanyol di Piala Dunia 2026

Jumali
Jumali Rabu, 15 Juli 2026 10:27 WIB
Dari Xavi ke Yamal, Transformasi Spanyol di Piala Dunia 2026

Lamine Yamal./Instagram lamineyamal

Harianjogja.com, JOGJA—Ketika Timnas Spanyol memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026 usai menundukkan Prancis 2-0 di semifinal, banyak pihak langsung membandingkan mereka dengan generasi emas yang menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Perbandingan tersebut memang sulit dihindari. Kedua tim sama-sama berhasil membawa La Roja kembali ke panggung tertinggi sepak bola dunia. Namun, jika ditelaah lebih dalam, karakter Spanyol 2026 sangat berbeda dibanding skuad yang mengangkat trofi dunia 16 tahun silam.

Kesamaan utama kedua generasi hanya terletak pada kualitas teknik dan kecerdasan bermain. Selebihnya, filosofi permainan, pola menyerang, hingga profil pemain mengalami perubahan signifikan.

Pada era Vicente del Bosque, Spanyol membangun identitas sebagai pengusung sepak bola tiki-taka. Penguasaan bola menjadi senjata utama untuk mengontrol pertandingan.

Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, dan Xabi Alonso memainkan peran sentral dalam mengatur ritme permainan. Mereka membuat lawan terus mengejar bola sebelum akhirnya menemukan celah untuk mencetak gol.

Tidak jarang penguasaan bola Spanyol saat itu melampaui 60 persen. Serangan dibangun dengan sabar melalui rangkaian umpan pendek yang nyaris tanpa henti.

Pendekatan tersebut berhasil mengantar Spanyol meraih gelar Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 dalam rentang empat tahun.

Namun wajah La Roja pada 2026 menunjukkan evolusi yang cukup drastis.

Tim asuhan Luis de la Fuente tetap mengutamakan kualitas teknik dan kemampuan menguasai bola, tetapi tidak lagi menjadikan sirkulasi umpan sebagai tujuan utama permainan.

Kini Spanyol lebih cepat menyerang ruang kosong. Perpindahan dari fase bertahan ke menyerang dapat dilakukan hanya dalam beberapa sentuhan dengan memanfaatkan kecepatan pemain sayap dan mobilitas tinggi para gelandang.

Pendekatan ini membuat permainan Spanyol lebih langsung, agresif, dan sulit diprediksi.

Transformasi tersebut terlihat jelas sepanjang Piala Dunia 2026. La Roja mampu mengontrol pertandingan ketika dibutuhkan, tetapi juga sanggup melancarkan serangan cepat yang mematikan saat menemukan celah.

Perubahan paling mencolok juga terlihat dari sosok pemain yang menjadi pusat perhatian.

Pada generasi 2010, keberhasilan Spanyol lahir dari kekuatan kolektif. Tidak ada satu pemain yang benar-benar menjadi pusat permainan secara mutlak.

Xavi mengatur tempo, Iniesta menghadirkan kreativitas, Busquets menjaga keseimbangan, sementara David Villa bertugas menyelesaikan peluang.

Sebaliknya, Spanyol 2026 memiliki figur yang menjadi simbol era baru, yakni Lamine Yamal.

Di usia 19 tahun, pemain Barcelona tersebut telah berkembang menjadi salah satu talenta paling berbahaya di sepak bola dunia. Kemampuannya melewati lawan dalam situasi satu lawan satu, menciptakan peluang, serta menghadirkan momen penentu membuatnya menjadi senjata utama La Roja.

Kehadiran Yamal memberikan dimensi berbeda yang tidak dimiliki Spanyol 2010.

Meski mengalami perubahan besar dalam cara menyerang, satu elemen tetap dipertahankan oleh kedua generasi, yakni organisasi pertahanan yang solid.

Spanyol 2010 hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen berkat ketangguhan lini belakang yang dihuni Carles Puyol, Gerard Pique, Joan Capdevila, dan Iker Casillas.

Generasi 2026 juga menunjukkan kualitas serupa.

Sepanjang Piala Dunia 2026, pertahanan Spanyol menjadi salah satu yang terbaik di turnamen. Disiplin posisi, koordinasi pressing, dan kemampuan membangun serangan dari belakang menjadi fondasi kekuatan mereka.

Perbedaan lain tampak pada profil usia pemain.

Skuad juara dunia 2010 dipenuhi pemain yang sedang berada di puncak karier setelah meraih berbagai gelar domestik maupun Liga Champions.

Sebaliknya, banyak pemain Spanyol 2026 masih berada pada fase awal perjalanan internasional mereka.

Kondisi tersebut membuat masa depan La Roja terlihat sangat menjanjikan. Dengan kombinasi pemain muda berbakat dan sejumlah sosok berpengalaman, Spanyol tidak hanya berpeluang merebut trofi Piala Dunia 2026, tetapi juga diprediksi tetap menjadi kekuatan utama sepak bola dunia dalam beberapa tahun ke depan.

Kini, langkah terakhir menanti. Spanyol akan menghadapi pemenang semifinal antara Argentina dan Inggris untuk menentukan apakah transformasi menuju era baru ini dapat berujung pada trofi Piala Dunia kedua sepanjang sejarah mereka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online