Bos Pramac Yamaha Sebut MotoGP Punya Batas untuk Meniru Formula 1

Jumali
Jumali Selasa, 04 Agustus 2026 02:37 WIB
Bos Pramac Yamaha Sebut MotoGP Punya Batas untuk Meniru Formula 1

Foto ilustrasi Motogp. - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA—Kepemilikan baru di bawah Liberty Media memunculkan harapan bahwa MotoGP bisa mengikuti jejak Formula 1 dalam meningkatkan nilai bisnis dan popularitas global. Namun, Bos Pramac Yamaha Paolo Campinoti menilai ada batas yang tidak mudah dilewati oleh ajang balap motor paling bergengsi di dunia tersebut.

Menurut Campinoti, MotoGP memang dapat belajar banyak dari Formula 1, terutama dalam pengelolaan bisnis, pemasaran, dan pengembangan basis penggemar. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa tidak semua kesuksesan F1 dapat direplikasi karena kedua olahraga memiliki karakter pasar yang berbeda.

Salah satu perbedaan paling mencolok adalah kemampuan Formula 1 menembus segmen premium dengan nilai komersial yang sangat tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, F1 berhasil membangun citra eksklusif yang menarik kalangan penonton kelas atas dan korporasi global.

Campinoti menilai kondisi tersebut sulit dicapai MotoGP dalam waktu dekat.

“Formula 1 saat ini memiliki penonton yang berbeda dengan kami. F1 sudah bergeser sepenuhnya ke segmen premium, sehingga masih ada banyak ruang bagi kami untuk menempatkan MotoGP pada posisi yang lebih baik,” kata Campinoti dikutip dari GPOne.

Meski melihat peluang pertumbuhan, ia menganggap MotoGP tidak realistis jika berupaya mengejar Formula 1 hingga ke level yang sama.

Perbedaan itu terlihat jelas dari harga paket eksklusif yang ditawarkan kepada penggemar. Di Formula 1, tiket Paddock Club dapat dijual dengan harga lebih dari 15.000 euro atau sekitar Rp284 juta.

Menurut Campinoti, angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi Formula 1 di pasar premium global.

“Itu bukan langkah yang tepat, dan mustahil mencapai level seperti itu. Tetapi kami tentu bisa bergerak sedikit ke arah sana,” ujarnya.

Selain membahas perbedaan dengan Formula 1, Campinoti juga mengkritisi pendekatan MotoGP yang selama ini terlalu fokus pada efisiensi biaya operasional.

Dalam beberapa musim terakhir, berbagai langkah penghematan diterapkan oleh penyelenggara dan tim. Mulai dari penggunaan satu pemasok ban, sistem elektronik standar, pengurangan sesi latihan, hingga penyesuaian jadwal balapan di kelas Moto2 dan Moto3.

Langkah tersebut memang membantu mengurangi pengeluaran, tetapi menurut Campinoti tidak cukup untuk menghasilkan perubahan besar bagi industri MotoGP secara keseluruhan.

Ia menilai peningkatan pendapatan harus menjadi fokus utama apabila MotoGP ingin berkembang lebih cepat dan memiliki nilai bisnis yang lebih tinggi.

“Kalau kita terus bicara menghemat 100 euro untuk biaya transportasi, silakan saja. Memang ada penghematan. Tetapi perubahan yang sesungguhnya datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memangkas biaya,” tegasnya.

Pandangan Campinoti menjadi menarik karena disampaikan pada masa awal MotoGP berada di bawah kendali Liberty Media. Perusahaan asal Amerika Serikat tersebut dikenal sukses mengubah Formula 1 menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan komersial tercepat di dunia.

Meski demikian, Campinoti mengingatkan bahwa MotoGP harus menemukan strategi yang sesuai dengan karakteristiknya sendiri. Baginya, menyalin model bisnis Formula 1 secara utuh bukanlah solusi.

MotoGP tetap memiliki daya tarik unik yang berbeda dengan F1. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memanfaatkan keunikan tersebut untuk meningkatkan pendapatan, memperluas basis penggemar, dan memperkuat posisi olahraga balap motor di pasar global tanpa kehilangan identitasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online