Pelanggaran Teknis Bikin Quartararo Terlempar dari Zona Poin
Fabio Quartararo dijatuhi penalti 16 detik usai MotoGP Inggris 2026 di Silverstone akibat pelanggaran teknis sistem tekanan ban. Pebalap Yamaha itu gagal meraih
Pebalap Motogp Pecco Bagnaian. /Instagram-pecco63.
Harianjogja.com, JOGJA— Sebuah fenomena aneh menghantui tim pabrikan Ducati Lenovo di Sirkuit Silverstone akhir pekan kemarin. Juara dunia bertahan, Francesco "Pecco" Bagnaia, justru mengalami salah satu akhir pekan terburuk dalam kariernya di MotoGP Inggris 2026.
Ironisnya, di saat Pecco kesulitan menemukan cengkeraman ban, dua pembalap Ducati lainnya—Alex Marquez dan Marc Marquez—justru tampil kompetitif di garis depan. Keanehan inilah yang kini menjadi teka-teki besar di paddock.
Memulai balapan dari posisi start ke-16 yang merupakan catatan terburuknya sepanjang musim ini, Bagnaia sudah berada dalam tekanan sejak lampu merah padam. Harapan untuk bangkit pun pupus sudah. Alih-alih menanjak, ia justru masuk dalam daftar pembalap yang gagal finis (DNF) pada lap kesembilan dari total 20 lap yang digelar. Sebuah kecelakaan tunggal yang terjadi secara mendadak membuat motor Desmosedici GP-nya tersungkur di tepi lintasan.
Kehilangan Kendali dalam Hitungan Milidetik
Yang membuat insiden ini begitu mencengangkan adalah ketidakmampuan tim dan pembalap menemukan akar masalahnya. Bagnaia mengakui bahwa dirinya sama sekali tidak merasakan tanda-tanda bahaya sebelum terjatuh.
“Jujur saja, ini sangat aneh. Saya belum pernah kehilangan kendali ban depan saat keluar dari tikungan,” ujar Pecco Bagnaia dengan nada frustrasi, melansir Crash, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa analisis data telemetri pasca-balapan justru menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. “Saat melihat datanya, sulit untuk menemukan penyebab pastinya. Satu-satunya hal yang jelas adalah saya kehilangan kendali ban depan sepenuhnya dalam hitungan milidetik. Jadi, ini sangat aneh, tapi itulah yang terjadi," tegasnya.
Kegagalan finis ini menjadi pukulan telak bagi mental juara. Lebih dari sekadar kehilangan poin, Pecco mengaku sangat kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak kompetitif sepanjang akhir pekan. Ia bahkan menegaskan bahwa targetnya saat itu bukanlah meraih podium, melainkan sekadar mendekati posisi 10 besar, yang pun pada akhirnya tetap tidak tercapai.
“Saya kesulitan untuk—bukan sekadar menjadi cepat, karena saya memang tidak pernah tampil cepat—tapi saya kesulitan untuk sekadar mendekati posisi 10 besar sepanjang akhir pekan," tuturnya. "Hari ini ada sedikit peluang untuk finis di 10 besar. Namun, saya sangat kesulitan, dan kami harus bangkit dari situasi ini, karena saya tidak ingin mengalami akhir pekan seperti ini lagi.”
Misteri Grip yang Hilang dan Ironi Tim Ducati
Yang membuat kebingungan Pecco semakin menjadi adalah fakta bahwa tim Ducati telah melakukan segala upaya teknis yang mungkin. Ia mengonfirmasi bahwa para insinyur telah mengubah hampir semua parameter yang bisa diubah pada motor GP-25 miliknya.
“Saya mengubah segalanya. Mulai dari setup hingga aspek elektronik. Tapi masalahnya bukan di situ,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa masalah bukan terletak pada kesalahan teknis biasa seperti tekanan ban atau setelan suspensi, melainkan pada kondisi yang lebih mendasar. Pecco melontarkan pengakuan mengejutkan bahwa dirinya tidak merasakan grip alias cengkeraman ban sejak awal musim, bukan hanya di Silverstone.
“Sejak balapan pertama musim ini, saya tidak mendapatkan cengkeraman ban sama sekali; benar-benar nol. Kami tidak tahu harus berbuat apa, karena ada pembalap Ducati [lainnya] yang memiliki grip yang sangat baik," ucapnya, menyoroti kontras tajam dengan motor Ducati lainnya.
Kontras itu terbukti di hasil akhir balapan. Alex Marquez dari tim Gresini kembali tampil gemilang dengan mengamankan posisi keempat, menjadi yang terbaik di antara para pengguna Ducati dan hanya terpaut di belakang trio Aprilia yang mendominasi podium.
Sementara itu, rekan setim Pecco di tim pabrikan, Marc Marquez, meski tidak secemerlang Alex, setidaknya berhasil mengakhiri balapan di posisi ketujuh dan mengumpulkan poin penting. Situasi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi tim Ducati: apa yang sebenarnya terjadi pada motor nomor 63? Jika tidak segera ditemukan solusinya, mimpi buruk Pecco Bagnaia di musim 2026 ini bisa saja berlanjut ke seri-seri berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Fabio Quartararo dijatuhi penalti 16 detik usai MotoGP Inggris 2026 di Silverstone akibat pelanggaran teknis sistem tekanan ban. Pebalap Yamaha itu gagal meraih
The Odyssey resmi jadi film terlaris Christopher Nolan dengan Rp19,6 triliun. Kalahkan Dark Knight Rises, pecahkan rekor IMAX, dan siap tayang di China
Jeff Bezos dan Eduardo Saverin selangkah lagi membeli 30% saham Liverpool senilai £4,4 miliar. Konsorsium Amit Bhatia ini akan jadi investasi terbesar di sepak
Kisah Omar Abdulkadir Artan, wasit Somalia yang ditolak AS untuk Piala Dunia 2026, kini mencetak sejarah memimpin Piala Super Eropa PSG vs Aston Villa.
Pecco Bagnaia gagal finish di MotoGP Inggris 2026 karena kehilangan grip ban depan secara misterius, sementara pembalap Ducati lainnya justru cepat.
Harga emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian 11 Agustus 2026 stagnan. Emas Antam 1 gram tetap Rp2,798 juta.