PSIM Kalah Empat Kali Beruntun, Van Gastel Pahami Desakan #VanGastelOut

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Jum'at, 16 Oktober 2026 18:57 WIB
PSIM Kalah Empat Kali Beruntun, Van Gastel Pahami Desakan #VanGastelOut

Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel/ PSIM Jogja

Harianjogja.com, JOGJA—Pelatih PSIM Jogja Jean-Paul van Gastel memahami kekecewaan suporter yang mendesaknya mundur setelah Laskar Mataram menelan empat kekalahan beruntun di Super League 2026/2027. Ia mengakui hasil buruk yang membuat tim hanya mengoleksi satu poin dari lima pertandingan awal musim menjadi alasan wajar bagi pendukung untuk meluapkan kemarahan.

Desakan agar Van Gastel meninggalkan kursi pelatih mencuat di media sosial melalui tagar #VanGastelOut. Tekanan itu meningkat setelah PSIM kalah 1-2 dari PSM Makassar pada laga pekan kelima di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Jumat (16/10/2026).

Van Gastel tidak menampik kekecewaan para suporter. Menurut pelatih asal Belanda tersebut, reaksi pendukung merupakan konsekuensi dari hasil yang belum sesuai harapan sekaligus menunjukkan besarnya keterikatan mereka dengan klub.

“Menurut saya, hal itu sangat wajar. Jika setelah lima pertandingan Anda hanya meraih satu poin, wajar bila para fans merasa marah dan kecewa. Jadi, bagi saya itu hal yang lumrah,” kata Van Gastel dalam konferensi pers seusai laga melawan PSM.

Ia mengatakan para pemain dan staf juga merasakan beratnya situasi yang sedang dihadapi PSIM. Van Gastel memahami bahwa suporter menginginkan tim kebanggaannya segera bangkit dan kembali meraih hasil positif.

“Semua ini terjadi karena rasa cinta dan semangat yang mendalam, bagi mereka terhadap klub dan kota ini, dan bagi kami terhadap klub tempat kami bekerja. Jadi, kami merasakan hal yang sama mengenai situasi ini,” ujarnya.

Van Gastel Sebut Sudah Berusaha Maksimal

Di tengah desakan agar dirinya mundur, Van Gastel menegaskan telah berusaha memberikan kemampuan terbaik untuk PSIM. Ia mengaku memberikan tekanan besar kepada dirinya sendiri untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi tim.

Menurut dia, pekerjaan sebagai pelatih tidak berhenti ketika sesi latihan selesai. Ia terus memikirkan strategi, menyusun program latihan, dan mengelola berbagai tantangan selama menangani tim di Indonesia.

“Saya adalah orang yang menuntut tekanan paling besar pada diri saya sendiri dibandingkan siapa pun di klub ini. Saya bekerja sangat keras 24 jam sehari, bahkan rasanya seperti 26 jam, karena selalu berpikir, mencoba merancang latihan, mengeksekusinya, dan mengelola banyak hal di Indonesia,” tuturnya.

Van Gastel mengakui tugasnya menyita banyak waktu dan tidak selalu mudah dijalani. Meski demikian, ia menyatakan tetap berupaya bekerja maksimal demi kepentingan klub dan tim.

“Pekerjaan saya sangat menantang dan menyita waktu, tetapi saya memberikan yang terbaik yang saya bisa. Jika itu masih dinilai belum cukup, saya tetap tenang karena tahu telah melakukan segala kemampuan terbaik demi klub, tim, dan diri saya sendiri,” katanya.

PSIM Kalah Empat Kali Beruntun

Tekanan terhadap Van Gastel tidak lepas dari rentetan hasil buruk yang dialami PSIM. Kekalahan dari PSM memperpanjang catatan negatif Laskar Mataram setelah sebelumnya takluk dari Persebaya Surabaya, Madura United, dan Persija Jakarta.

Dalam pertandingan melawan PSM, PSIM kalah 1-2 meski sempat memperkecil ketertinggalan melalui penalti Ze Valente pada menit ke-82. Hasil tersebut membuat PSIM belum mampu mengakhiri tren kekalahan.

Dari lima pertandingan awal, PSIM hanya mengumpulkan satu poin. Perolehan itu menempatkan Laskar Mataram di peringkat ke-16 klasemen sementara, berdasarkan data dalam naskah ini, sehingga masih berada di zona degradasi.

Situasi tersebut membuat upaya memperbaiki performa menjadi pekerjaan mendesak bagi Van Gastel dan skuad PSIM. Hasil pertandingan berikutnya akan menjadi kesempatan bagi tim untuk menghentikan tren negatif sekaligus meredakan kekecewaan suporter.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online